Bermula dari “kesilapan lidah” seorang Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat Ahmad Mubarok. Meskipun kemudian beliau membantah mengatakan Golkar hanya mendapat 2,5 persen suara. Mubarok mengaku statemennya dipelintir guna mengadu domba Golkar dan Demokrat. Bahkan seorang SBY sebagai pembina Partai Demokrat sudah mengadakan konferensi press khusus untuk mengklarifikasi kekhilafan tersebut. Sudah selesai sebenarnya persoalan tersebut.

Meskipun demikian ucapan sudah dilontarkan. Media massa sudah memuat berulang-ulang. Rakyatpun sudah mencerna informasi tersebut. Apa lacur!

Sungguh tepat komentar JK terhadap polemik itu. “Jangan bermimpi (Golkar) hanya akan mendapatkan 2,5 persen suara dalam pemilu mendatang. Silakan saja yang bermimpi buruk. Yang (bilang) itu cuma seseorang yang tidak tahu hal-hal itu (Golkar),” tandas Kalla (kompas.com. 9/2). <!–[if !vml]–><!–[endif]–>Tepat!

Sumber: Pusat Data Redaksi “PR”, 16 Februari 2009

Kita lihat di Jawa Barat yang mempunyai pemilih terbesar kedua di Indonesia. Sekitar 29 juta lebih pemilih berdomisili di sana.

Pada tahun 2008 ini sudah berlangsung 17 pilkada di Jabar. Mulai dari Kabupaten Purwakarta pada bulan Januari 2008 sampai pilkada terakhir Kabupaten Subang pada bulan Oktober.

Dari 17 pilkada ini ada dua partai politik yang mendominasi pilkada yaitu Golkar dan PDIP. Masing-masing memiliki 15% dari total resultan politik Jabar. Sisanya masih jauh di bawah dominasi kedua partai itu.

Gambaran ini tak jauh berbeda dengan hasil perolehan suara DPRD Jabar di Pemilu 2004. Resultan pilkada di 16 kab/kota tadi dibandingkan dengan perolehan suara parpol pada Pemilu 2004 di 16 kab/kota memperlihatkan hasil yang kurang lebih sama. Partai Gokar mendominasi Pemilu 2004 dengan telak di 17 kota/ kabupaten di Jabar.

 

<!–[if !vml]–><!–[endif]–>

Sumber: Diolah dari data KPU Jawa Barat

Sumber: Diolah dari data KPU Jawa Barat

Bahkan dibandingkan dengan urutan kedua (PDIP) dan ketiga (PKS), Golkar masih melaju jauh. Lebih dari dua kali lipat.

<!–[if !vml]–><!–[endif]–>Apalagi dalam iklan terbaru Partai Golkar seperti ada “nafas konsolidasi” yang kental. Selama ini terkesan ada berbagai perbedaan di antara pemimpin Partai Golkar.

Sulit membayangkan jika Jusuf Kalla, Surya Paloh Sultan HB X, dan Akbar Tandjung tertawa bersama dalam satu panggung, apalagi dalam beberapa waktu terakhir ini. Namun dalam iklan Partai Golkar terbaru mereka hadir bersama. Ungkapan Akbar Tanjung mencerminkan konsolidasi Partai Golkar menjelang Pemilu 2009 nanti. “Bahwa saya dengan JK ada perbedaan pendapat itu tidak bisa dipungkiri. Tapi dalam konteks menjelang pemilu, kami punya kepentingan yang sama, bagaimana Golkar bisa mendapat dukungan signifikan sekurang-kurangnya sama Pemilu 2004,” ujarnya (inilah.com 9/2).

Jadi dengan pengalaman sejak Pemilu 2004 dan proses konsolidasi partai, maka pihak yang meremehkan Partai Golkar memang harus siap-siap bermimpi buruk!

Sumber: pilih23.com