Tak bisa dipungkiri kiprah Golkar dalam kancah politik nasional selalu terdepan. Setelah melalui masa keemasan di era orde baru, Golkar mengalami perubahan-perubahan mengikuti perkembangan demokrasi di Indonesia. Pada masa awal reformasi, Golkar sempat mengalami kesulitan di pemilu 1999. Saat itu Golkar hanya menempati urutan kedua pada pemilu legislatif, dengan perolehan suara 23.741.758 atau 22,44%. Tapi hal itu hanya bertahan sebentar, partai Golkar kembali bisa memenangkan pemilu legislatif pada tahun 2004 dengan memperoleh 24.480.757 suara atau 21,58%. Hal ini menunjukkan bahwa Golkar tak lekang di makan jaman. Jaman bergerak maju, demikian juga Golkar.

Semangat untuk bergerak maju itu pula yang muncul beberapa bulan ini. Ada percepatan dalam pergerakan partai Golkar. Semangat yang meninggi untuk memenangkan pemilu legislatif. Hal ini dimulai sejak Jusuf Kalla, Ketua Umum partai Golkar, menyatakan kesediaannya untuk menjadi calon Presiden dari partai Golkar. Berbagai konsolidasi didaerah digelar, iklan-iklan di televisi, radio dan media massa lainnya menunjukkan kenaikkan pemberitaan Golkar, jauh melebihi pemberitaan partai lainnya. Awal pembuktian ini menjadi energi untuk menyongsong kembalinya partai Golkar ke tampuk kekuasaan.

 

Pemilu 2009 merupakan ajang pembuktian bagi partai Golkar untuk kembali menjadi nomor satu di legislatif, dan tentunya nomor satu juga di pemerintahan. Setelah hampir 10 tahun lebih dan melewati dua pemilu, Golkar selama ini seolah-olah menjadi partai nomor dua. Menutupi kebesarannya yang tenggelam oleh permainan politik para “pemain baru”. Himbauan para Ketua-ketua DPD I di Yogyakarta pada tanggal 14 Maret 2009 lalu yang melahirkan “Kesepakatan Yogyakarta” secara tegas menyatakan, bahwa langkah pertama yang harus dilakukan partai Golkar adalah memenangkan pemilu legislatif. Karena dari sinilah pangkal untuk memuluskan langkah politik Golkar selanjutnya, yaitu memenangkan pemilu Presiden. Ajakan para Ketua-ketua DPD I partai Golkar se-Indonesia ini tentunya tidak hanya kepada para kader Golkar dibawahnya, tetapi juga kepada para petinggi Golkar untuk menuntaskan langkah pertama lebih dahulu.

Di sisi yang lain, “Kesepakatan Yogyakarta” tentunya mengingatkan para kader Golkar yang menjadi capres ataupun cawapres untuk ikut ambil bagian secara penuh dalam kerja memenangkan pemilu Legislatif. Karena dengan cara itu pula akan dibuktikan siapa yang paling pantas untuk menjadi capres dari partai Golkar, tidak hanya sekedar menjadi capres di media seperti yang selama ini terjadi. Dan bukan hanya sekedar kebetulan saja apabila para kader Golkar yang selama ini digadang-gadang merupakan cermin keragaman wilayah Indonesia. Ada Surya Paloh dari NAD, Akbar Tanjung dari “tanah para pengacara” Sumatera Utara, Agung Laksono merupakan “Wong C’rebon” Jawa Barat, Sri Sultan Hamengku Buwono X dari Yogyakarta dan Ketua Umum Jusuf Kalla atau yang biasa disebut Daeng Ucu dari Makassar sulawesi Selatan. Bisa kita bayangkan apabila semua kandidat capres ataupun cawapres dari kader Golkar turut serta dalam berbagai kampanye terbuka atapun dialog-dialog, selalu mengajak masyarakat untuk memilih partai Golkar dalam pemilu Legislatif. Tentunya akan menjadi kekuatan yang sulit dibendung. Mungkin tidak hanya sekedar 177 kursi di DPR pusat yang akan diperoleh seperti target yang telah ditetapkan DPP, akan tetapi bisa jadi melampaui target tersebut.

Saatnya bersatu, bersama untuk memenangkan pemilu legislatif. Karena itulah Golkar, keberagaman yang tetap bersatu. Dan kalau sudah begitu, Golkar tidak bisa dikalahkan.

Sumber: pilih23.com