Krisis financial sudah bukan lagi menjadi milik Amerika serikat, saat ini krisis financial sudah semakin dasyat daya serangnya terhadap ketahanan ekonomi diberbagai Negara di dunia. Kondisi krisis likuiditas di negeri Paman Sam itu sudah mempengaruhi aktifitas ekspor dari Negara-negara yang sebelumnya menjalin hubungan perdagangan dengan Amerika. Negara-negara yang sebelumnya memliki hubungan bisnis melalui aktifitas ekspor-impor dengan Amerika seperti Jepang dan China saat ini ikut merasakan dampak dari krisis financial di Amerika. Perlambatan ekonomi dan minimnya likuiditas yang dimiliki Amerika saat ini telah memaksa Negara yang semula berjuluk adidaya itu menjadi tidak berdaya untuk melakukan permintaan terhadap pasokan komoditas dari luar negaranya. Resesi telah memukul 4 sektor, aktivitas ekonomi di India, china, Brasil dan Rusia Menurun, resesi berupa kontraksi ekonomi sudah dimulai pada kuartal III-2008 dan berlanjut ke kuartal IV, krisis keuangan Amerika serikat itu adalah pemicu dan kini mulai memukul investasi, perdagangan, bantuan, serta keyakinan investor dan Indonesia berada pada urutan teratas dalam daftar korban krisis dalam gejolak ekonomi dunia saat ini. Tidak luput pula negara-negara Eropa mereka juga merasakan dampak yang sama, aktifitas industri dan perdagangan sudah mulai menunjukan tanda-tanda kemunduran. Dan hal itu tidak hanya dirasakan bagi pengusaha dari negara Eropa melainkan juga oleh para pengusaha asal Indonesia yang menjalankan usaha di Eropa. Mereka saat ini sedang dalam ancaman bahaya yang serius karena imbas krisis finansial yang saat ini sudah mengarah ke sektor riil bukan tidak mungkin akan terus berlangsung dan bermuara pada krisis sosial jika kondisinya tidak dapat dikendalikan oleh pemerintah. Ada indikasi para pengusaha asal indonesia yang sedang mengalami ancaman gulung tikar di negara Eropa sana mulai melakukan upaya untuk mendorong pemerintah supaya memberikan bantuan kepada pengusaha yang melakukan usaha di indonesia. Targetnya adalah jika pemerintah memberikan bantuan kepada para pengusaha di indonesia, maka mereka memiliki ruang untuk menuntut hal yang sama. Mereka akan meminta bantuan dana kepada pemerintah dengan alasan untuk penyelamatan usahanya di luar negeri. Artinya apa? Bahwa saat ini negara sedang dihadapkan pada situasi yang dapat membuat negeri ini menjadi lemah secara ekonomi. Jika upaya untuk menarik dana yang ada di indonesia itu berhasil, maka dapat dipastikan akan terjadi kelangkaan uang di indonesia, sehingga nilai ukar rupiah terhadap dolar akan semakin melemah dan harga dolar menjadi sangat tinggi. Efek turunan dari kelangkaan keuangan akibat tersedotnya uang yang ada di indonesia ke luar negeri tesebut jelas berpengaruh terhadap aktifitas industri. Karena lemahnya dayabeli masyarakat membuat permintaan terhadap produk industri menurun sehingga pasti akan berdampak pada sektor ketenagakerjaan. Dimana ancaman pemutusan hubungan kerja dipastikan akan meningkat dan jumlahnya sangat tinggi. Kasus tersebut tidak hanya menimpa perusahaan nasional, melainkan juga perusahaan-perusahaan yang berbasis Amerika. Perusahaan-Perusahaan tersebut melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap karyawannya. Dengan keluarnya surat keputusan Bersama epat Menteri (SKB) 4 Menteri mengenai ketenaga kerjaan. Dimana di dalam SKB tersebut pemerintah melepaskan diri dan memberikan kebebasan kepada pekerja dan perusahaan untuk membahas mengenai upah bagi buruh. Ini merupakan bukti bahwa pemerintah menunjukan ketidak berdayaannya dalam mengatasi konflik kepentingan antara golongan pekerja dan pengusaha. Situasi sosial yang demikian tentu akan tidak kondusif dan potensi terjadinya krisis kepercayaan dari masyarakat terhadap pemerintah akan mungkin terjadi, pada saat semua sektor industri melamah, pengangguran akibat PHK meningkat dan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah berada pada level rendah inilah terbuka peluang untuk terjadinya kekcauan sosial seperti yang pernah terjadi di indonesia pada tahun 1997-1998. dimana pada saat itu masyarakat menjadi anarkis dan sistem dan hukum menjadi tidak berjalan. Semua berubah menjadi bar-bar karena legitimasi pemerintah berada pada titik terlemah. Belum lagi akhir-akhir ini sektor perbankan terus mendesak pemerintah supaya pemerintah memberikan penjaminan terhadap dana nasabah yang disimpan di bank sampai dengan seratus persen nilai penjaminya. Jika pemerintah tidak kuat dan mengikuti permintaan kalangan perbankan, maka itu artinya negara dihadapkan dengan kasus serupa BLBI untuk kedua kalinya. Sementara utang para kreditor BLBI sampai saat ini belum terbayar dan tidak ada kejelasan kapan uang negara itu akan kembali. Melihat fenomena yang berkembang sudah sedemikian menghawatirkan, maka kepada segenap elemen bangsa dan khususnya pemerintah harus mampu meproteksi agar jangan sampai terjadi uang lari ke luar negeri, dan sedapat mungkin kondisi sosial masyarakat tetap dipertahankan supaya tetap kondusif dan peluang terjadinya gejolak sosial anarkisme di tingkat masyarakat dapat diatasi dan dicegah. Sebab jika hal ini terjadi maka dapat dipastikan negara akan menaggung kerugian besar dan kita tidak bisa terhindar dari sugesti yang di tawarkan IMF. Dan negeri ini akan kembali masuk ke dalam perangkap IMF untuk kedua kalinya. Mengapa hal itu kita hindari, karena kita tidak mau terjebak ke dalam lubang yang sama seperti pada saat krisis menimpa tahun 1997-1998 lalu. Peran masyarakat untuk melakukan kontrol terhadap pemeritah juga harus lebih diintensifkan mengingat dalam situasi krisis dan kepanikan ekonomi terkadang kebijakan yang diterbitkan oleh pemerintah kurang rasional sehingga perlu kontrol yang lebih peka dari masyarakat terhadap pemerintah.

Suyanto Londrang

Sumber: selamatkan-indonesia.net