golputGolongan Putih (Golput) telah menjadi fenomena ‘alam’ kemanusiaan yang berkembang bagaikan ‘benalu’ bagi elit politik kita, fenomena Golput yang hampir selalu menang dalam perhelatan Pemilu maupun Pilkada yang telah dilaksanakan di seluruh wilayah Indonesia seakan-akan menjadikannya ‘momok’ yang menakutkan dan mengerikan bagi Partai Politik! sehingga menimbulakn ‘efek’ Golput Phobia dikalangan elit politik.

Ketakutan tersebut kemudian “direspon” oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang merupakan kepanjangan tangan pemerintah (dan penulis sangat curiga bahwa fatwa haram GOLPUT merupakan ‘pesanan’ elit yang mengalami Golput Phobia syndrom) agar MUI mengharamlan GOLPUT. Fatwa ini diputuskan para ulama dan ditetapkan dalam sidang pleno Ijtima Ulama se-Indonesia III di Perguruan Diniyyah Putri, Kota Padangpanjang, Minggu 25 Januari 2009.

selain fatwa haram Golput tersebut, MUI juga menyatakan bahwa merokok juga HARAM, bukan hal yang aneh mungkin jikalau kita sudah sering mendengar MUI mengeluarkan fatwa haram terkait beberapa permasalahan yang ada di sekitar kita.
sosok lembaga MUI berubah bagaikan ‘lembaga’ vonis bagi masyarakat Indonesia, sosoknya bagaikan tuhan (dengan t kecil) yang harus diikuti perintahnya!

Penulis sempat tersenyum bingung mendengarkan fatwa haram Golput tersebut, Ulama saat ini berbeda dengan ulama’ masa lalu. Kalau ulama masa lalu, menilai ulama’ yang datang ke pemerintah sebagai sebuah cacat. tetapi ulama’ sekarang, bisa hadir di kantor pejabat pemerintah sebagai sebuah anugerah. Artinya, ulama’ sekarang pun banyak yang berorientasi kepada kehidupan dunia dengan segala gemerlapnya.

Berkaitan dengan hadirnya pilkada atau pemilihan-pemilihan lainnya, Ulama’ pun tak mau ketinggalan dalam mendukung masing-masing calon. Dan kemudian membuat fatwa, bahwa tidak memilih itu haram. Tujuannya tentu sederhana saja, agar jagonya menang, dan kalau menang dia akan mendapatkan banyak fasilitas!
sebagai contoh lagi terkait fatwa haram merokok, padahal banyak sekali para ulama kita yang merokok!!kalau ulamanya saja merokok terus rakyatnya ikut siapa??

kita sudah banyak melihat para ulama yang sibuk berpolitik dengan saling dukung-mendukung calon bupati/gubernur sampao ke presiden, bahkan terjuna langsung dalam PArtai Politik!
kalau sudah begini PANTASKAH MEREKA DIJADIKAN PANUTAN???
BULLSSHIT!!

Para ulama kita sudah ‘terbuai’ dengan duniawi sehingga melupakan dan meninggalkan khittahnya dalam mengasuh dan mendidik santri-santrinya agar menjadi santri yang meliki akhlak dan akidah yang kuat, tapi melihat fenomena ‘ulama politik’, penulis semakin yakin kalau semua fatwa yang dikeluarkan menyesatkan!! dan hanya menjadi bahan tertawaan dan ejekan masyarakat! (termasuk penulis)

Yang lebih lucunya lagi, fatwa Golput haram versi MUI, Dalam penyampaian Komisi A dan B-2 difatwakan hukum golput ada saatnya wajib bagi pemilihan terhadap wakil rakyat yang memenuhi syarat ideal.
“Pilihlah pemimpin yang beriman, bertaqwa, jujur terpercaya, aktif dan aspiratif, mempunyai kemampuan dan memperjuangkan kepentingan umat Islam,” saran H Sholahuddin al-Aiyub dalam penyampaian hasil sidang komisi.
Sedangkan haram, lanjut dia, kalau memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat ideal dan tidak memilih sama sekali, padahal ada calon yang memenuhi syarat ideal.

Lucu BUKAN??

MUI dengan ulama-ulamanya telah menjelma menjadi tuhan (dengan t kecil) yang memiliki kewenangan yang sangat powerfull bahkan mungkin mengalahkan ‘kewenangan Tuhan’.
Al-Qur’an dan Al-Hadist seakan-akan ‘menjadi kambing hitam’ untuk melegalkan fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh MUI demi ‘memuluskan’ tujuannya!

alangkah tidak bijaknya para ulama kita mengeluarkan fatwa haram golput ditengah maraknya ulama dan kiyai berbondong-bondong terjun ke dunia politik!!
alangkah tidak bijaknya para ulama kita mengeluarkan fatwa haram merokok ditengah banyaknya ulama dan kiyai yang menjadi pelaku perokok aktif!!

Penulis sedikit mengutip pandangan seorang ulama yang menurut penulis sudah langka kita jumpai di Indonesia sebagai berikut:
“KH Ghozali Said, pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa An Nur Surabaya, menyatakan, bahwa golput dalam pemilihan kepala daerah tidak melanggar hukum agama Islam.

“Bahkan golput dianjurkan jika dilakukan dengan tujuan untuk memprotes sitem politik yang korup,” kata Ghozali Said kepada Tempo (Senin 14/7).

Meskipun sebenarnya masih kurang tegas, Ulama’ seperti Kyai Ghozali inilah yang masih layak dijadikan panuitan ummat. Sayangnya cuman ada sedikit, sebab yang lainnnya sudah terjebak ke dalam cara hidup politik kotor, politik demokrasi. Setiap orang yang telah terjerumus ke dalam kubangan lumpur politik tidak akan bisa berfatwa dengan jernih. Wallahu a’lam
Sumber:

“Causes” <apps+mhmjwp1_@facebookappmail.com>