banjirPertumbuhan pembangunan perumahan sekaligus tingkat huniannya di Kec. Bojongsoang, Dayeuhkolot, Margahayu, Margaasih, Cileunyi, dan Cimenyan, Kab. Bandung, lebih pesat bila dibandingkan kecamatan lainnya. Pasalnya, wilayah tersebut berbatasan dengan Kota Bandung yang denyut nadi perekonomiannya lebih pesat.

Camat Bojongsoang, Drs. Usman Sayogi J.B., M.Si. mengatakan, Kondisi tersebut menimbulkan terjadinya konsentrasi warga dengan berbagai pelaku usaha. Dengan adanya pergerakan usaha tersebut, secara otomatis perluasan rumah tinggal mulai terkonsentrasi di pinggiran kota tersebut. Salah satunya yang menjadi pusat perhatian pengembang untuk mendirikan/perumahan adalah Kec. Bojongsoang, sebagai salah satu aset potensial pengembangan usaha tersebut. Kini sudah ada 19 pengembang yang melirik usaha tersebut. Namun, baru 11 pengembang sudah mewujudkan pembangunannya yang tersebar di Desa Buahbatu, Cipagalo, Lengkong, dan desa lainnya.

Sedangkan lima pengembang lainnya dalam proses pembangunan. Kelima pengembang itu berada dalam pengawasan camat. Termasuk dua di antaranya pengawasannya sedang dimaksimalkan.

Sedangkan tiga pengembang lainnya, kata Yogi, saat ini sedang mengajukan proses perizinan ke Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) setempat. Namun, dampak dari pembangunan perumahan yang sudah terwujud, sejak beberapa tahun terakhir ini di sejumlah lokasi perumahan kerap menimbulkan bencana banjir dengan ketinggian rata-rata 30-50 cm. Sehingga menimbulkan reaksi keras dan protes dari sejumlah warga yang terkena dampak banjir. Bencana banjir terjadi karena tidak memadainya saluran drainase yang berada di sekitar perumahan.

Untuk menanggulangi bencana banjir, Camat Bojongsoang sudah memanggil sejumlah pengembang guna membicarakan kondisi nyata di lapangan, baik yang dialami warga setempat maupun penghuni rumah di masing-masing perumahan yang terendam banjir.

Sikap tegas camat tersebut mendapat dukungan dari sejumlah warga dan tokoh masyarakat setempat. Apalagi dalam pertemuan itu, Yogi mengingatkan para pengembang agar dalam proses pembangunan perumahan harus sesuai dengan siteplan.

Upaya camat itu pun mendapat dukungan dari sejumlah tokoh perikanan Desa Bojongsoang. Menurut mereka, saluran drainase yang bagus/normal bukan hanya aman bagi para penghuni di lokasi perumahan dan warga asli yang yang sebelumnya sudah menetap lebih awal, tetapi aman juga bagi pelaku usaha yang bergerak dalam budi daya ternak ikan.

Drainase yang baik bisa membantu keberlangsungan peternak ikan di kawasan Kec. Bojongsoang. Di Desa Bojongsoang saja misalnya, dari luas lahan 30 hektare, amsumsi pegawai setiap satu hektarenya mencapai 20 buruh tani ternak ikan. Jadi peruntukan lahan yang ada di kecamatan tersebut, bukan hanya untuk perumahan, melainkan juga bagi perikanan yang bisa membantu perekonomian mereka. Untuk itu, kondisi drainase harus diperhatikan. Sebab, jika drainasenya tidak baik, akan berengaruh terhadap perikanan, apalagi kalau tidak ada airnya ikan bisa mati.

Ditambahkan camat, yang diselamatkan tidak hanya calon penghuni baru yang bakal menempati perumahan, tetapi juga turut menyelamatkan peternak ikan. Untuk itu, antara pertumbuhan perumahan jangan sampai tidak terintegrasi dengan keberlangsungan sektor perikanan. Sebab, jika pembangunan perumahan tidak terintegrasi, dikhawatirkan bisa menimbulkan rasa cemas para peternak ikan.

Jika penataan drainasenya tidak baik, lanjutnya, akan menganggu budi daya perikanan. Maka dari itu, para pengembang disarankan mematuhi siteplan yang sudah dikeluarkan Dispertasih. Maksudnya, agar proses pengembangan perumahan di tiap pengembang terintegrasi dengan pengembang-pengembang lainnya.

Sumber : Harian Umum Galamedia, Edisi, Kamis 22 Januari 2009