Hillary Rodham Clinton, calon Menteri Luar Negeri Amerika Serikat mengatakan akan menggunakan smart power dalam kebijakannya. Pernyataan itu disampaikan Hillary di hadapan Komite Hubungan Internasional Senat, Selasa (13/1).
Smart power adalah istilah diplomasi yang berarti gabungan antara kekuatan keras (hard power) seperti kekuatan untuk menekan dengan militer atau langkah-langkah lain dengan kekuatan lunak (soft power) yakni kekuatan untuk meyakinkan atau membujuk melalui perdagangan, diplomasi, bantuan atau penyebaran nilai-nilai. Atau penggunaan berbagai kekuatan (politik, kebudayaan, ekonomi dan lain-lain) untuk mencapai kepentingan nasional.
Hillary menyatakan dia berniat membangkitkan misi diplomasi dalam kebijakan luar negeri AS, menggunakan strategi smart power di Timur Tengah dan secara tersirat mengkritik pemerintahan Presiden George W Bush yang terlalu banyak mengandalkan militer dalam kebijakan luar negerinya.
“Kita tidak boleh menyerah soal perdamaian,” kata Hillary, menawarkan deklarasi riil pertama yang untuk mengatasi krisis Gaza. Dia menambahkan pendekatan diplomatic, termasuk meningkatkan kontak dengan negara-negara seperti Iran dan Suriah, untuk menjadi perantara penyelesaian konflik di kawasan Timur Tengah.
Dia mengakui, banyak presiden sebelumnya, termasuk suaminya, telah berupaya dan gagal menyelesaikan masalah di Timur Tengah.
“Presiden terpilih dan saya memahami dan sangat simpati terhadap keinginan Israel untuk mempertahankan diri, dan bebas dari roket Hamas. Namun kami juga diingatkan pada korban-korban kemanusiaan yang tragis akibat konflik Timur Tengah, serta penderitaan warga sipil Palestina dan Israel,” katanya.
“Hal ini meningkatkan kebulatan tekad kita untuk menciptakan perdamaian yang abadi yang membawa keamanan sejati bagi Israel, hubungan yang positif dan normal dengan tetangga-tengganya serta kemerdekaan, kemajuan ekonomi dan keamanan Palestina di negara mereka sendiri.”

Perkuat Diplomasi
Dalam dengar-pendapat di Senat, menlu pilihan Presiden terpilih Barack Obama itu menjawab dengan hati-hati, pertanyaan dua anggota Komisi dari Partai Republik yang menekannya untuk mengambil langkah guna menjamin agar upaya penggalangan dana yang dilakukan suaminya, mantan Presiden Bill Clinton tidak menimbulkan konflik dengan perannya sebagai diplomat utama AS. Dia menyatakan peraturan yang mengatur hal tersebut sudah ada.
Hillary tampaknya tidak mengalami kesulitan dalam konfirmasi Senat. Tidak ada tantangan atas visi kebijakan luar negerinya. Dengan yakin, Hillary menyatakan niat Obama untuk memperbarui kepemimpinan AS di dunia dan memperkuat diplomasi negeri itu.
“Amerika tidak dapat menyelesaikan masalah yang paling mendesak sendirian, dan dunia tidak dapat memecahkannya tanpa Amerika,” kata Hillary yang dalam sidang didampingi putrinya, Chelsea.
“Cara terbaik untuk mengedepankan kepentingan Amerika dalam mengurangi ancaman dan mendapatkan kesempatan global adalah dengan mendesain serta mengimplementasikan solusi global. Ini bukan filosofi, ini kenyataan kita.”
Berbicara dengan perlahan namun jelas dan tegas, Hillary menjelaskan garis besar kebijakan AS dalam kepemimpinan Obama nanti. Datar, dan banyak mengutip tema yang kerap diangkat saat Obama dan dia berkampanye.
Pemerintahan Demokrat ingin meningkatkan peran diplomasi. Hillary dan Obama berpendapat, pemerintahan Bush terlalu mengedepankan militer dalam kebijakan luar negeri, bergantung pada ideologi dan kurang pragmatis.
Komisi Hubungan Internasional Senat akan mengadakan pemungutan suara atas pencalonan Hillary, (Kamis (15/1), Jumat waktu Indonesia). Jika disetujui, dia akan mendapatkan konfirmasi penuh Senat paling lambat di hari pelantikan Obama, 20 Januari, pekan depan.

Sumber: http://www.sinarharapan.co.id