anak-indonesiaPEMILIH muda, khususnya pemilih pemula, adalah potensi suara yang patut dipertimbangkan untuk dibidik oleh parpol pada Pemilu 2009. Kelompok pemilih ini belum memiliki jangkauan politik yang cukup kuat sehingga membuka peluang yang sangat besar untuk dirangkul partai politik mana pun, termasuk oleh parpol baru.

Kelompok pemilih yang berentang usia 17-21 tahun ini adalah mereka yang berstatus pelajar, mahasiswa, serta pekerja muda. Kelompok ini jelas memiliki karakteristik yang berbeda jika dibandingkan pemilih yang sudah memiliki pengalaman mencoblos pada beberapa pemilu sebelumnya.

Berdasarkan proyeksi dari data populasi penduduk Badan Pusat Statistik tahun 2005, jumlah penduduk muda (usia di bawah 40 tahun) sekitar 95,7 juta jiwa pada tahun 2009. Jumlah tersebut setara 61,5 persen dari 189 juta penduduk usia pemilih.

Di antara penduduk usia muda, paling banyak (22,3 persen) adalah mereka yang yang pada tahun depan berusia 22-29 tahun. Mereka merupakan kelompok penduduk yang baru berpengalaman satu atau dua kali mencoblos dalam pemilu sebelumnya.

Cukup besar

Sementara itu, penduduk yang berada dalam kelompok pemilih pemula pun berjumlah cukup besar. Kelompok pemilih pemula di sini adalah mereka yang baru akan punya pengalaman mencoblos untuk pertama kali pada Pemilu 2009. Potensi suara kelompok ini mencakup 36 juta suara atau sekitar 19 persen dari jumlah penduduk kategori pemilih.

Potensi suara pemilih muda inilah yang patut diperhitungkan oleh partai politik. Hasil jajak pendapat Kompas minggu lalu menunjukkan, antusiasme kelompok responden usia di bawah 40 tahun lebih tinggi ketimbang kelompok usia yang lebih mapan. Sebanyak 67,08 persen responden berusia di bawah 40 tahun menyatakan akan memberikan suaranya pada salah satu partai peserta pemilu. Hanya 7,66 persen yang menyatakan sebaliknya.

Sementara itu, responden yang berusia 41 tahun ke atas, sebanyak 59,15 persen menyatakan akan memilih salah satu partai dan 11,59 persen memutuskan tidak akan memilih partai mana pun. Antusiasme pemilih muda ini bisa menjadi bahan bagi partai politik untuk menyusun strategi guna membidik kelompok usia muda yang merupakan mayoritas dari jumlah pemilih.

Demikian juga responden pada kelompok pemilih pemula lebih terbuka pada kemunculan partai politik baru. Keterbukaan publik yang berada dalam rentang usia 17-22 tampak jika dilihat pada minat mereka untuk memilih parpol baru. Sebanyak 46,23 persen responden dalam kelompok usia tersebut menyatakan berminat untuk memilih partai baru.

Tingkat partisipasi

Sejarah penyelenggaraan pemilu di Indonesia menunjukkan fakta terjadinya penurunan tingkat partisipasi pemilih. Selama periode Orde Baru tingkat partisipasi pemilih dalam setiap penyelenggaraan pemilu selalu di atas 90 persen.

Namun, partisipasi politik di bawah rezim pemerintahan Soeharto dinilai semu. Sejumlah faktor yang menggiring pada persepsi ini adalah represi politik dan model mobilisasi yang sangat kuat selama enam periode pemilu sepanjang 32 tahun pemerintahan Orde Baru. Partisipasi pemilu pada era Orde Baru pun memang memiliki kecenderungan turun dalam setiap penyelenggaraan, tetapi penurunannya tak terlalu signifikan.

Bahkan, pada penyelenggaraan pemilu pertama di era reformasi, antusiasme pemilih masih tinggi. Tercatat lebih dari 92,7 persen pemilih yang menggunakan hak pilihnya. Ini boleh jadi bagian dari gegar reformasi yang membawa mimpi perubahan pada bangsa ini.

Namun, dalam pemilu yang diselenggarakan dengan sistem langsung untuk pertama kali pada tahun 2004, tingkat partisipasi melorot drastis. Jumlah pemilih yang tidak menggunakan hak pilih melonjak sampai 15,9 persen.

Pemilu legislatif yang dibuntuti pemilihan presiden putaran pertama dan putaran kedua, seiring juga dengan penurunan tingkat partisipasi pemilihnya. Pada pilpres putaran pertama, pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya sebesar 21,8 persen. Jumlah tersebut kembali melonjak jadi 23,4 persen pada pilpres putaran kedua.

Pemilihan kepala daerah (pilkada) pun menunjukkan fenomena turunnya antusiasme masyarakat untuk menggunakan hak pilihnya. Dari 25 penyelenggaraan pemilihan gubernur selama tiga tahun rezim pilkada langsung, misalnya, tercatat sedikitnya 13 pilgub didukung oleh kurang dari 70 persen pemilih terdaftar.

Penyelenggaraan pilkada paling anyar adalah Pemilihan Gubernur Jawa Timur, hanya diikuti oleh 54,32 persen pemilih. Padahal, tingkat partisipasi pemilih di putaran pertama, yang tercatat jumlah pemilih terdaftarnya 29 juta jiwa itu, sudah tergolong rendah. Di putaran pertama yang dimeriahkan oleh lima pasang kandidat itu, pemilih yang tercatat datang ke TPS untuk mencoblos sebanyak 61,63 persen.

Di daerah lain pun setali tiga uang. Pada Pemilihan Gubernur Jawa Tengah, tingkat partisipasi pemilih tercatat 58,6 persen. Adapun di Jawa Barat tingkat partisipasi pemilih 67,31 persen.

Sejumlah penelitian membuktikan bahwa kelompok pemilih muda, terutama di daerah perkotaan, menjadi porsi besar yang sangat mungkin menyumbang jumlah golput. Kelompok ini didominasi oleh kelas menengah, pelajar, dan mahasiswa.

Muara dari rendahnya minat pemilih datang ke TPS adalah rendahnya kepercayaan dan citra parpol di mata publik. Di tengah ekspos media masa yang semakin masif membongkar berbagai kasus hukum dan korupsi yang melibatkan anggota Dewan Perwakilan Rakyat, mendorong meningkatnya persepsi buruk publik terhadap para elite politik. Padahal, mereka merupakan representasi elite partai politik yang dipilih langsung oleh rakyat

Dalam jajak pendapat yang berhasil menjaring 811 pemilik telepon ini, 60,4 persen responden menilai citra parpol saat ini buruk. Hanya 33,78 persen yang memberi apresiasi positif terhadap parpol yang ada sekarang. Proporsi penilaian publik terhadap parpol semacam ini relatif tidak berubah dalam jajak pendapat beberapa tahun terakhir.

Perilaku pemilih yang lebih rasional semakin meningkat di tengah semangat keterbukaan yang berkembang selama 10 tahun terakhir. Masyarakat saat ini sudah lebih mampu melihat performa pimpinan dan partai politik. Melalui berbagai media yang jauh lebih terbuka dan mudah diakses saat ini, publik bisa menilai elite-elite dan parpol yang akan bertarung dalam kontes politik.
Meningkatnya kekritisan masyarakat berdampak pada perilaku pemilih yang lebih rasional dalam menentukan pilihannya. Karakter pemilih yang seperti ini lebih banyak mendominasi kelompok pemilih muda.

Sumber: http://www.pemilu-online.com