kaum-mudaPolitisi muda yang kini banyak dicalonkan sebagai pemimpin nasional dan anggota legislatif adalah generasi muda yang tidak memiliki pemahaman dan kematangan berpolitik. Bila dipaksakan maju pada pemilu legislatif dan pemilihan presiden, dikhawatirkan mereka tak akan mendapat dukungan publik.

“Politisi muda yang dilahirkan pada dekade 60 hingga 80-an itu masuk pada kategori generasi tunapolitik. Artinya, mereka sebenarnya tak punya kemampuan dan pengalaman berpolitik karena dibesarkan dalam suasana politik yang tidak dinamis,” kata pengamat politik Reform Institute Yudi Latif, di Jakarta, Jumat (12/9).

Di tempat terpisah, pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsuddin Haris berpendapat, wacana calon presiden dari kaum muda sebenarnya bukan refleksi dari keinginan atau kebutuhan masyarakat untuk mencari pemimpin alternatif.

Wacana capres muda dilontarkan oleh pihak (parpol) tertentu hanya sebatas slogan untuk konsumsi media massa yang memiliki ambisi untuk meraih kekuasaan.

“Itu (capres muda) hanya slogan di televisi dan surat kabar yang dikampanyekan parpol dan tokoh tertentu. Padahal, publik belum tentu mendukung capres muda,” kata Syamsuddin Haris. Di samping itu, katanya, tokoh muda yang ingin maju pada pemilihan presiden tidak memiliki konsep dalam merealisasikan apa yang menjadi komitmennya.

“Untuk menjadi capres itu tidak cukup lewat iklan. Tapi dibutuhkan strategi untuk merealisasikan semangat dan komitmen agar terimplementasi dengan baik. Kalau slogan, semuanya jadi terlihat manis dan bagus,” katanya.

Yudi Latif mengemukakan, pemahaman politisi muda usia itu terhadap situasi dan sistem perpolitikan di Indonesia dan dinamikanya relatif minim. Ini terjadi karena era saat mereka dibesarkan lebih banyak diisi dengan suasana rekreatif, restriksi, dan jauh dari pendidikan politik.

Ia menambahkan, kalau pun di antara kalangan muda itu ada yang telah berkiprah sebagai aktivis, mereka lebih mirip pada kondisi tahun 1920-an, saat Soekarno dan segelintir pemuda lainnya mencoba menggalang kekuatan pergerakkan nasional.

Yudi Latif menambahkan, bila politisi muda tetap maju sebagai capres dan caleg, mereka bakal sulit mendapatkan dukungan publik.

“Karena jam terbang politik mereka sebagai politisi masih terbatas, publik belum mengenal mereka, khususnya lagi prestasi dan kinerja mereka. Akibatnya, politisi muda itu teralienasi dalam kebingungan dan ketidaktahuan publik,” ujarnya.

Yudi mencontohkan situasi ketika politisi muda itu ikut dalam proses persaingan pencalegan. “Caleg muda ini tidak mengenal basis massanya. Begitu juga sebaliknya, massa tidak kenal caleg itu. Di sinilah terjadi alienasi,” katanya.

PKS, sekalipun didominasi kalangan muda, katanya, pada dasarnya masih terkategori belajar berpolitik karena, pada masa awal berdirinya, partai itu lebih banyak bergerak pada wilayah sosial dan budaya saja.

“Jadi, ketika kalangan muda ini mencoba masuk ke dalam kancah politik riil, mereka akan mendapat kesulitan untuk menembus simpul-simpul massa yang riil,” katanya.

Sementara itu, Dave Laksono, putra Ketua DPR Agung Laksono, yang menjadi caleg Partai Golkar dari daerah pemilihan Jabar II, mengatakan, ia telah melalui proses kaderisasi di Partai Golkar. Segala proses yang dilaluinya, telah sesuai dengan rel yang ada dan aturan internal partai.

Dengan sistem suara terbanyak yang digunakan Partai Golkar, menurut Dave, para caleg muda akan ditantang untuk memperjuangkan apa yang menjadi visi misi perjuangannya mewakili rakyat.

“Bagaimanapun, caleg yang masih ‘bayi’ seperti saya tertantang untuk berjuang lebih keras, memperlihatkan apa yang ingin saya perjuangkan untuk rakyat,” kata Dave yang menjabat Ketua Departemen Penggalangan Mahasiswa Kosgoro 1957.

Dave juga membantah, karena dirinya menjadi anak petinggi partai, maka ia mendapatkan kemudahan untuk menjadi wakil rakyat. Ia menjelaskan, sejak tahun 2004 telah aktif sebagai kader muda Partai Golkar. “Saya yakin, saya bisa mewakili karena dengan pendidikan yang saya punya, dengan background pendidikan saya dan dengan pengalaman, saya bukan hanya memiliki aset nama,” ujarnya.

Sebagai pendatang baru di dunia politik, Dave sadar bahwa dirinya tak populer di mata publik. Untuk itu, dirinya melakukan upaya dan strategi yang akan dilakukannya dengan turun langsung memperkenalkan diri.

Soal pendanaan, Dave mengaku, uang untuk mendanai kampanyenya berasal dari kantongnya sendiri sebagai seorang pengusaha.

Sementara itu, politisi muda PKS, Rama Pratama, berpendapat, majunya sejumlah politisi muda sebagai capres dan caleg harus dihargai sebagai bagian dari euforia reformasi. Pada masa Orde Baru, menurut dia, terjadi stagnasi regenerasi yang tidak memungkinkan kaum muda masuk ke dalam ranah politik.

Ia tidak setuju politisi muda bakal teralienasi karena publik tidak mengenalnya.

Di tempat terpisah, Ketua Umum DPP Partai Golkar Jusuf Kalla mengatakan, konvensi calon presiden Partai Golkar pada tahun 2004 tidak menghasilkan apa-apa dan tidak bisa mendongkrak perolehan suara partai.

“Dulu konvensi capres Partai Golkar 2004 tak menghasilkan apa-apa, biayanya besar, yang muncul malah orang luar dan kalah lagi. Jadi apa hasilnya?” kata Jusuf Kalla.

Jusuf Kalla menjelaskan bahwa keputusan soal konvensi atau tidak ditetapkan dalam Rapimnas. Dan Rapimnas DPP Partai Golkar telah memutuskan tidak dilakukan lagi konvensi.

Sumber: http://www.berpolitik.com