dsc02584BUAH jatuh tidak jauh dari pohonnya. Peribahasa lama ini tengah berlaku pada Dave Laksono, putra Ketua DPR Agung Laksono. Anak muda ini mengikuti jejak sang ayah, yang juga dikenal sebagai Wakil Ketua Umum Partai Golkar, terjun ke dunia politik. Dave termasuk salah satu caleg Golkar untuk Pemilu 2009.

Tetapi, dengan nada pasti, Dave membantah memanfaatkan aji mumpung. Ya, selagi ayahnya berkuasa, si anak bisa dengan mudah menjadi calon anggota dewan dari sebuah partai besar, yang ketua umumnya, Jusuf Kalla, merupakan seorang Wakil Presiden Republik Indonesia.

Sebagai politisi muda, Dave mengaku tidak lahir secara instan. Dari perjalanan karir politiknya, pengusaha muda ini, merasa matang dengan sendirinya, tanpa karbitan. Lihat saja, sejak 2004, ia aktif di Kosgoro, sebuah Ormas, yang menjadi onderbouw Golkar, sejak lama.

Dalam Ormas, yang tergabung dalam Kino, pendiri Golkar itu, Dave pernah menjadi wakil Sekjen, kemudian bendahara di Golka DKI, dan kemudian aktif di Litbang DPP Partai Goljkar bidang transportasi. Setelah itu, lulusan California State University Northridge, Amerika Serikat ini, juga dipercaya masuk Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) sub bidang pemilih pemula.

“Jadi, di bidang politik, saya punya track record, bukan kader instan. Saya melaluinya melalui tahapan-tahapan juga,” tegasnya.

Terjun ke masyarakat

Yang membuatnya tertarik berjuang untuk menjadi anggota DPR, antara lain karena Golkar menerapkan mekanisme suara terbanyak untuk menentukan caleg terpilih. Lewat mekanisme tersebut, ia mengaku bisa lebih leluasa untuk meyakinkan masyarakat untuk memilihnya. Dengan cara itu, ia menjadi lebih percaya diri untuk terjun ke tengah konstituen, karena imbasnya pasti ke figur kader masing-masing.

“Ada perubahan drastis di Golkar. Ada sistem suara terbanyak, sehingga siapa pun, termasuk tokoh muda adalah bayi dalam panggung politik, diberi kekuasaan berinteraksi dengan masyarakat,” kata mantan wakil direktur perusahaan penerbangan Adam Air ini.

Dengan latar belakang pendidikan, dan latar belakang keluarga politisi, ditambah idealisme, dan keinginan kuat untuk membantu masyarakat, menjadi aset besar Dave untuk terjun ke DPR. Dengan semua itu, dan tentu saja Ridha Allah SWT, ia berkeyakinan kuat bisa melenggang ke DPR, Senayan, Jakarta.

“Saya memiliki pengalaman di Amerika, Indonesia. Pendidikan politik, saya melihat langsung dari bapak saya. Tapi, itu bukan semata modal saya. Aset saya, idealisme saya dan keinginan membantu rakyat,” ujar calon legislatif dari daerah pemilihan Jawa Barat II ini.

Strateginya untuk mendulang suara di daerah pemilihan, Dave mengatakan terjun langsung ke masyarakat merupakan langkah tepat. Ini sejalan dengan mekanisme suara terbanyak yang dibangun Golkar. Kalau tidak sering-sering menemui konstituen, mesin politik pasti tidak jalan.

“Saya new comer (pendatang baru), jadi harus turun langsung dan meyakinkan mereka bahwa saya benar-benar layak dipilih,” kata Dave.

Mengenai dana kampanye yang akan ia gulirkan, Dave meyakinkan sumbernya halal. Ia mengaku mengumpulkannya dari usahanya yang dibangun secara jujur, selama ini. “Ya, dari upaya sendiri, bukan dari orang tua. Saya juga tidak berani minta ke orang tua. Malu, sudah besar kok, masih bergantung sama orang tua,” katanya sambil tertawa.

Sumber: http://www.indonesiaontime.com