Pemanfaatan energi matahari menjadi energi listrik selain untuk menghemat energi juga sebagai bentuk cinta lingkungan. Namun sayang, teknologi yang digunakan masih mahal.

PLTS bertenaga 14 megawatt di Pangkalan Udara Nellis (Nellis Air Force), NevadaAnda mungkin sudah pernah melihat kalkulator yang bisa beroperasi tanpa baterai sebab menggunakan panel surya sebagai sumber energinya. Sepanjang Anda mempunyai cukup cahaya, kalkulator itu bisa digunakan selamanya. Anda juga mungkin pernah melihat panel surya yang lebih besar yang dipasang di atap rumah atau di sebuah lahan khusus. Pada satelit-satelit di luar angkasa juga terpasang panel surya yang digunakan untuk menghidupkan sistem satelit tersebut.

Di sejumlah negara, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang dibangun di atas lahan yang luas sudah dibangun dan berjalan. Pada Februari 2008, sebuah pusat pembangkit listrik dengan tenaga surya (PLTS) dibuka di Spanyol dan merupakan yang terbesar di dunia saat ini. Dengan menggunakan 120.000 panel tenaga matahari (solar panel) di lahan seluas 100 hektar di Jumilla, daerah penghasil anggur di Selatan Spanyol, dapat menghasilkan kapasitas sebesar 20 megawatts atau dapat “menghidupi” 20.000 rumah.

Proyek ini diharapkan bisa memberikan pendapatan 28 juta dollar per tahun dan dapat mengurangi emisi gas CO2 sekitar 42.000 ton per tahun. Pembangunan ‘pabrik’ tenaga surya ini dilakukan dengan berbagai ketentuan seperti menanam kembali pohon di sekitar pabrik, menyediakan tempat penampungan air untuk mengatasi kebakaran, menyediakan tempat minum untuk hewan, dan sebagainya.

Di belahan dunia lain, sebuah pembangkit listrik tenaga surya terbesar di Amerika Utara kini sudah berfungsi dan menghasilkan listrik sekitar 30 juta kilowatt-hours setiap tahunnya. Pembangkit bertenaga 14 megawatt ini ada di Pangkalan Udara Nellis (Nellis Air Force) di Nevada. Pembangkit listrik yang menelan biaya sekitar US$ 100 juta itu diharapkan dapat menghemat biaya listrik 1 juta dollar per tahun dan mengurangi gas karbondioksida sekitar 24.000 ton per tahun. Dibuat dengan 72.000 panel solar, pembangkit ini bisa menyediakan 30% kebutuhan listrik di pangkalan udara tersebut dimana terdapat 12.000 orang yang bekerja dan 7.125 orang yang menetap. Pangkalan udara ini bisa menghemat pengeluaran listrik hingga 1 juta dollar per tahun. SunPower, perusahaan yang membuat PLTS ini, menggunakan sistem pelacak dimana panel surya akan bergerak seiring dengan gerakan sinar matahari sepanjang hari dan menghasilkan energi lebih banyak hingga 30 persen dibandingkan dengan sistem konvensional yang diam tidak bergerak.

Yang lebih unik lagi, ada sebuah perkampungan di kota Freiburg, Jerman yang disebut-sebut Kampung dengan Tenaga Surya. Sebab, semua rumah (yang berjumlah 58 unit) sampai perkantoran di daerah ini menggunakan tenaga matahari sebagai sumber listrik mereka. Bahkan desain dan layout rumahnya benar-benar difokuskan untuk memaksimalkan penggunaan sinar matahari.

Atap rumah didesain sedemikian rupa sehingga hanya bayangan sinar matahari yang masuk ke dalam rumah saat musim panas tetapi mengijinkan sinar matahari yang bersinar lebih rendah masuk ke rumah saat musim dingin (passive heating). Energi yang dihasilkan dari proyek tenaga surya ini banyak digunakan untuk membuat air panas dan menghangatkan ruangan saat musim dingin.

Di Indonesia sendiri, PLTS sudah banyak diterapkan meski dalam skala kecil dan menengah. Salah satunya adalah Desa Sukatani, Sukabumi, Jawa Barat, sejak tahun 1998. Khusus untuk di daerah pedesaan atau kepulauan dengan pola permukiman yang menyebar dan tidak terjangkau PLN, sistem pembangkit listrik tenaga surya yang diterapkan adalah solar home system (SHS).

Sistem ini terdiri dari panel modul surya, baterai, alat pengontrol dan lampu, dipasang pada rumah-rumah dengan panel fotovoltaik di atas atap rumah. Dengan kapasitas daya 50 Wp dimana pada radiasi matahari rata-rata harian 4,5 Kwh/m2 akan menghasilkan energi sekitar 125-130 watt-jam.

Sedangkan untuk perkotaan sedang dikembangkan sistem photovoltaic grid connected (jaring laba-laba PLN) yang dapat dimiliki secara perorangan atau institusi. Sistem tersebut merupakan pembangkit listrik yang dapat disimpan dalam jaringan PLN untuk mengurangi beban puncak sekaligus dapat dijual kepada PLN. “Sistem ini menggunakan interkoneksi. Secara teknis mudah dipasang, jadi tidak perlu khawatir. Di Jerman, sisa listrik yang ada dibeli lima kali lipat oleh pemerintahnya. Contohnya, kapasitasnya 100 watt pik, yang dipakai hanya 60 watt, nah sisanya itu dibeli oleh pemerintah,” kata Kholid Akhmad MEng, PhD, peneliti dari Pusat Teknologi Konversi dan Energi Konversi BPPT, belum lama ini.

Ada juga sistem PV-diesel Hybrid untuk pedesaan dan kepulauan dengan pola permukiman terkonsentrasi dan sudah mengoperasikan pembangkit listrik tenaga diesel. Jadi waktu kerja diesel yang terbatas dapat dilengkapi secara bergantian dengan sistem tenaga surya tersebut.

Sekolah Internasional Jerman (DIS) Jakarta, baru-baru ini telah memanfaatkan energi surya untuk memenuhi kebutuhan listrik di sekolah tersebut. Program yang diberi nama “Atap Surya” ini terwujud berkat kerjasama antara perusahaan SUNSET Energietechnik GmbH bekerjasama dengan Deutsche Energie-Agentur GmbH (dena) – Badan Energi Jerman.

Indonesia menjadi negara kelima setelah pengerjaan instalasi serupa di Namibia, Singapura, Shanghai, dan Kairo. Melalui program Atap Surya ini Dena telah merealisasikan 17 proyek di 16 negara, dengan keanekaragaman dan kualitas teknologi sel surya dari Jerman sejak 2004. Dena merupakan lembaga berkedudukan di Berlin yang berfokus pada efisiensi penggunaan energi terbarukan.

Bersamaan dengan kunjungan Menteri Luar Negeri Jerman, Steinmeier pada tanggal 27 Februari 2008, sekelompok insinyur Jerman beserta para teknisi lokal mulai mengerjakan proyek instalasi tersebut. Pada acara peresmian proyek ini, 15 Juni 2008, Mr. Olaf Fleck, CEO Sunset Energietechnik GmbH mengatakan bahwa proyek ini merupakan proyek percontohan untuk wilayah kaya akan sinar matahari seperti Indonesia dan juga untuk memberikan peragaan menyeluruh kepada pihak-pihak yang berminat mengetahui lebih lanjut mengenai keunggulan teknologi tenaga surya produksi Jerman. Ke depan, sekolah DIS akan berbagi pengalaman program instalasi tenaga surya, dan akan diadakan ekskursi dan pelatihan untuk para politisi, investor, dan teknisi instalasi.

Selain itu, dengan adanya instalasi panel surya tersebut, sekolah dapat menghemat biaya listrik. “Selain menghemat biaya penggunaan listrik bagi seluruh fasilitas DIS, para murid kami diberi kesempatan untuk dapat menggunakan dan mempelajari teknologi yang sangat berperan di masa depan,” ujarnya.

Di sekolah ini terdapat empat macam instalasi panel surya di antaranya sistem pemanas energi surya besar yang berfungsi sebagai penyedia air panas untuk pancuran (shower) dan kolam renang, sedangkan sistem pemanas energi surya kecil berfungsi sebagai penyedia air panas di dapur. Ada pula sistem fotovoltaik (PV) tipe island (sistem cadangan) yang berfungsi sebagai penyedia pasokan listrik darurat bagi perangkat elektronik di sekolah. Sedangkan sistem energi surya berpanel amorf yang tersambung ke jaringan (grid-connected system) berfungsi sebagai pemasok listrik ke jaringan listrik negara (PLN).

Untuk sistem tenaga surya yang terhubung dengan jaringan digunakan alat inverter untuk mengubah arus searah (DC) menjadi arus dua arah (AC) sehingga dapat terukur oleh meteran. Kapasitas daya yang dihasilkan mencapai 10,08 kWp. Untuk sistem cadangan cara kerjanya sama seperti baterai yang menyimpan energi listrik yang akan digunakan saat aliran listrik mati. Kapasitas daya yang dihasilkan lebih kecil yaitu 1,120 kWp. Harus diakui, pemanfaatan energi matahari menjadi energi listrik selain untuk menghemat energi juga sebagai bentuk cinta lingkungan. Dengan menggunakan energi matahari maka polusi yang dihasilkan, baik polusi udara maupun polusi suara sangat minim.

Dari sekian keuntungan yang didapat, terdapat pula keterbatasan yang cukup besar. Teknologi ini memerlukan perangkat yang tidak murah. Sebab bahan bakunya masih impor, dan hal itu menyebabkan modul solar sel menjadi mahal. Harga per meter perseginya bisa mencapai sekitar Rp 5 juta – Rp 6 juta. Andai atap rumah luasnya 60 m² maka diperlukan sekitar Rp 300 jutaan. Belum termasuk biaya perangkat dan instalasi lainnya yang diperlukan.

Oleh karena itu, agar teknologi ini bisa terjangkau oleh masyarakat, sejumlah kalangan berharap, pemerintah membebaskan pajak bea masuk untuk perangkat-perangkat yang diperlukan. Jepang, misalnya, memberikan subsidi 50 persen kepada masyarakat yang memanfaatkan energi matahari. Lebih baik lagi, kalau Indonesia bisa membuatnya sendiri.

Sumber: beritaindonesia.or.id