Tahun sudah berganti, namun niat untuk berhenti merokok selalu kandas di tengah jalan. Jalan satu-satunya, pemberlakuan ketat Kawasan Tanpa Rokok.

Enam puluh ribuan kematian diakibatkan rokok setiap tahunnyaButuh usaha ekstra untuk mempercayai kalau ada orang yang berhasil memenuhi rencana-rencana yang dibuatnya di awal tahun. Sebab menurut sebuah penelitian, seperempat dari kita menyerah pada minggu pertama, dan sebagian besar gagal di bulan-bulan berikutnya. Rencana untuk hidup lebih sehat dengan sering berolahraga, mengurangi berat badan, berhenti merokok atau belajar bahasa Mandarin, tidak pernah kesampaian.

Lemahnya ‘daging’ manusia, sudah menjadi hukum alam yang dijadikan alasan mengapa rencana-rencana yang dibuat berguguran. Himbauan dan niat berubah dari diri sendiri rupanya tidak cukup kuat untuk membuat hidup lebih baik. Kenyataan ini membuat sebagian negara dan kota di dunia terpaksa membuat peraturan-peraturan yang harus ditaati warganya. Individu-individu tidak bisa berubah, negara campur tangan.

Contohnya peraturan-peraturan yang diterapkan penguasa di beberapa negara bagian di Amerika. Washington misalnya, warganya dilarang mengetik SMS saat sedang menyetir. Para pemilik bar di North Carolina harus mendaur ulang botol-botol minuman yang mereka sajikan. Sedangkan bagi para perokok, penguasa di California membuat peraturan: Anda tidak bisa merokok bila ada perokok pasif di sekitar Anda. Begitu pula di Illinois. Kalau dihitung-hitung, di Amerika Serikat, sedikitnya ada 14 negara bagian dan lebih dari 2.000 kota, termasuk New York, Los Angeles, dan Chicago telah memberlakukan undang-undang anti rokok di tempat-tempat umum yang tertutup.

Perubahan paling drastis terjadi di Perancis dimana sebelumnya kafe-kafe di sana mempunyai dua jenis ruang untuk para perokok, satu untuk perokok biasa, ruang satu lagi untuk perokok kelas berat. Namun dengan adanya peraturan baru, penguasa Paris akan mendenda warganya bila merokok di bar, cafe, dan restoran. Diperkirakan terdapat sekitar 13,5 juta perokok di Perancis dari total jumlah penduduk sebanyak 60 juta, yang terpaksa menaati peraturan ini. Langkah Perancis ini menyusul beberapa negara Eropa seperti Inggris, Irlandia, Finlandia, Norwegia, Italia, Malta, Swedia, dan Skotlandia yang sudah lebih dulu menerapkan larangan merokok di tempat-tempat umum.

Menteri Kesehatan Prancis, Roselyne Bachelot, mengklaim, larangan ini bukan untuk menyerang kebebasan individu yang terkenal sangat dijunjung tinggi di negara pelopor sistem republik itu. “Tujuan kami bukan untuk mengganggu orang, namun malah menjaga mereka. Kita tidak lupa bahwa setiap tahun 66 ribu kematian diakibatkan rokok dan 5.000 orang karena perokok pasif,” kata sang menteri. Di bawah UU Anti-Tembakau, orang yang nekat merokok di tempat umum bisa didenda 450 euro, sementara pemilik bisnis dapat didenda sampai 750 euro karena membolehkan merokok di tempat usahanya.

Larangan merokok di pub dan restoran juga diberlakukan lebih luas di Jerman sejak tanggal 1 Januari 2008. Sebanyak 8 negara bagian, termasuk Berlin, mengikuti langkah untuk menutup pub dan restoran dari rokok. Sepertiga warga Jerman merupakan perokok dan pihak berwenang di Berlin memutuskan untuk tidak langsung bertindak tegas dalam waktu 6 bulan pertama.

Kota Jakarta di Indonesia juga sudah mencanangkan KTR (Kawasan Tanpa Rokok) untuk membatasi perilaku perokok yang ‘semau gue’. KTR yang dicanangkan oleh organisasi WHO ini sudah diterapkan di lingkungan ASEAN seperti Singapura, Malaysia bahkan Vietnam. Di Malaysia, orang yang merokok di tempat umum didenda 500 ringgit, di Bangkok didenda 2.000 baht.

Namun sayangnya, kebijakan yang digagas oleh Pemda DKI Jakarta ini dipandang sebelah mata. Bagi para perokok, peraturan ini mengada-ngada dan malah menimbulkan pertanyaan. Berapa besar dendanya dan bagaimana mekanisme pelaksanaannya. Sebab, dalam berbagai hal, masalah berat seperti banjir, sampah, dan kemacetan hingga kini tidak pernah beres, apalagi masalah rokok?

Lemahnya penegakan KTR ini bisa kita jumpai di banyak mal di Jakarta. Salah satunya sebuah mal di bilangan Kuningan Jakarta yang notabene adalah tempat umum. Di lantai empat yang disediakan khusus untuk foodcourt, orang dengan seenaknya menyemburkan asap rokok ke sekeliling mereka. Ironisnya, kebanyakan para perokok itu adalah kaum perempuan berusia muda.

Sepertinya sudah cukup banyak ceramah dan himbauan untuk para perokok agar mereka berhenti merokok sebab berbahaya bagi tubuh dan jiwa. Mau tidak mau, cepat atau lambat, pemerintah pusat atau pemerintah daerah harus mengambil kebijakan konkrit dan tegas sama seperti yang sedang diberlakukan di berbagai negara maju.

Sumber: beritaindonesia.or.id