merdeka-atau-mati_resizeThomas Hobbes menyebutkan bahwa negara merupakan sebuah institusi sosial yang hadir sebagai bentuk kontrak sosial masing-masing individu atau kelompok dalam rangka memenuhi kepentingan publik secara adil dan merata. Hobbes mengasumsikan jika tidak adanya sebuah institusi yang mengatur keadilan dan pemerataan sosial yang dipercaya oleh publik. maka kehidupan manusia akan saling membunuh. menipu dan saling berbuat kekerasan demi memenuhi kebutuhan masing-masing di antara mereka sebagaimana hukum rimba yang berlaku. Karena manusia menurutnya dikenal sebagai sosok yang berkarakter homo homuni lupus yaitu srigala yang memakan srigala yang lain. Oleh karenanya untuk mengantisipasi terjadinya social chaos dalam kehidupan manusia, maka dibutuhkan institusi yang kuat untuk melindungi dan memenuhi kebutuhan masyarakatnya. yaitu negara.

Kini seusai perang dunia II, banyak negara telah bermunculan setelah membebaskan diri dari kekuasaan kolonial. Banyak diantara negara-negara baru tersebut termasuk Indonesia yang memiliki harapan besar akan munculnya kesejahteraan bagi rakyat pasca beralihnya kekuasaan politik ke tangan mereka. Jika dulu hasil bumi yang dimililki oleh masing-masing negara dinikmati oleh kekuasaan kolonial, kini setelah merdeka asumsi awal hasil bumi yang ada akan masuk ke kantong bangsa sendiri untuk mencapai kemakmuran dan kesejahteraan negeri tersebut, namun harapan dan asumsi yang demikian tidak sepenuhnya terbukti di seluruh negara-negara yang baru muncul itu, ada sebagian Negara yang terus maju dan mencapai kesejahteraan bagi rakyatnya, seperti Malaysia dan Singapura, sebagian yang lain ada yang masih berjalan di tempat bahkan mundur dari apa yang dirasakan sebelumnya diantaranya adalah negara Indonesia. Indonesia walaupun dikenal sebagai Negara yang berpenduduk terbesar ketiga setelah Cina dan India, juga dikenal dengan negeri yang subur dan kaya akan sumber daya alamnya, namun potensi besar yang dimiliki oleh negeri ini temyata tidak berbanding lurus dengan upaya pencapaian kesejahteraan sosial bagi rakyatnya, bahkan pergantian rezim pemerintah yang telah berlangsung sebanyak enam kali sejak kemerdekaan Indonesia tahun 1945, hingga saat ini belum menunjukkan wujud kesejahteraan bagi negeri ini.

Berbagai krisis silih berganti menghiasi potret kehidupan dalam berbangsa, mulai dari krisis ekonomi, krisis politik, krisis sosial, krisis budaya hingga krisis agama hingga persoalan kemiskinan, pengangguran, keterbelakangan, ketidakadilan, kekerasan, penyalahgunaan kekuasaan menjadi ritus kehidupan rakyat Indonesia yang belum juga usai. Wajar kemudian dalam berbagai hasil survei lembaga-lembaga Intemasional, Indonesia selalu saja menempati posisi buntut dalam hal kemajuan, dan posisi puncak dalam hal kemunduran. Korupsi misalnya, lembaga-lembaga internasional selalu menempatkan Indonesia berada pada posisi tertinggi, begitu juga halnya dengan kemiskinan dan kebodohan. Akan tetapi jika bicara persoalan kemajuan ekonomi, kemajuan pendidikan, malah sebaliknya, Indonesia berada di nomor buncit yang tidak menjadi perhitungan yang signifikan.

Oleh karenanya persoalan negara sejahtera (walfare state) bagi Indonesia, merupakan cita-cita yang masih panjang dan penuh liku. potensi-potensi kekayaan a1am yang dimiliki oleh negeri ini, yang sesungguhnya jika dikelola secara baik, mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang menjadi akar munculnya segala macarn persoalan sosial yang ada, malah diobral dengan begitu murah demi kepentingan personal maupun kelompok. Kekuasaan yang kini kian terbuka justru dimanfaatkan oIeh elit-elit bangsa untuk saling berebut kekuasaan demi memperkaya diri dan kelompok. Segala kekuatan yang muncul menghadang kepentingan para elit tersebut, dengan cepat disingkirkan. Termasuk halnya mempersempit kepemimpinan kaum muda untuk masuk dalam struktur kekuasaan yang ada.

Wal hasil, ritual demokrasi seperti pemilu yang kita anggap sebagal proses menuju perubahan hanya sebuah slogan kosong untuk mengelabui dan membohongi rakyat, pesta demokrasi cenderung dijadikan sebagal ajang perebutan dan pergantian kekuasaan semata, bukan sebagai batu loncatan untuk bisa memperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara. Meminjam pendapat Syafii Ma’arif misalnya, para elit-elit bangsa kita hanya berpikir jangka pendek yang sebatas “halaman pekarangan rumah” semata, seperti cara memperoleh kekuasaan, cara mempertahankan kekuasaan, cara memperoleh kekayaan. Untuk mencapai tujuan yang demikian, politik dagang sapi, kongkalingkong, suap dan korupsi menjadi sesuatu keniscayaan yang berjalan di negeri ini.

Potret sosial kebangsaan kita yang demikian, tentu saja merupakan bentuk kehidupan yang salah arah. Negara yang seharusnya menjadi pilar bagi kesejahteraan sosial, justru beralih fungsi menjadi institusi yang memiskinkan kehidupan rakyat. Jalaluddin Rahmat melihat penyelesaian persoalan yang demikian membutuhkan usaha kolektif, sebab apa yang kita hadapi saat ini bukanlah persoalan yang menyangkut personalitas, melainkan sudah terjerumus pada problem sosial. Untuk itu, Jalaludin menilai upaya rekayasa sosial (social engeneering) menjadi suatu keniscyaan yang harus dilakukan oleh rakyat.

Kepemimpinan Kaum Muda

Kaum muda merupakan kelompok sosial yang memiliki peran strategis dalam proses kebangsaan di tanah air kita selama ini. Kelahiran Budi Utomo (1908), sumpah pemuda (1928), revolusi kemerdekaan (1945) serta gerakan reformasi (1998) merupakan sebuah bukti sejarah akan peran kaum muda dalam menentukan arah kehidupan kita berbangsa dan bemegara. Kaum muda bagaimanapun statusnya, telah melakukan investasi sosial yang amat banyak bagi peletakan bangsa Indonesia. Kelompok inilah yang selama ini selalu berada di garda terdepan dalam penyelamatan berbagai persoalan sosial yang tetjadi. Oleh karenanya Arif Budiman melihat sosok kaum muda merupakan sosok yang penting dalam setiap perubahan, karena kaum muda bergerak atas nilai-nilai idealisme dan moralitas dalam melihat persoalan yang ada. Mereka adalah sosok yang merindukan perubahan dan sesuatu yang baru dalam hidup ini.

Maka di negara manapun, sosok kaum muda selalu menjadi perhatian yang khusus oleh banyak kalangan. Sebab di tubuh kaum muda inilah segenap tumpuan masa depan bangsa dipertaruhkan. Orang bijak sering mengatakan, masa depan bangsa yang baik adalah masa depan yang memiliki kaum muda yang unggul, kompetitif dan baik pula saat sekarang. Sebagai contoh kita lihat misalnya di India, melalui tangan Manmohan Singh, menteri keuangan India, yang menyekolahkan anak-anak muda India ke luar negeri dan menyerap i1mu terbaik langsung dari sumbemya telah mengubah wajah India saat ini. Sehingga Bangalore dan Hyderabad telah menjadi semacam technopark seperti halnya Lembah Silikon di Amerika Serikat.

Begitu pula yang kita saksikan dengan kebijakan Deng Xiao Peng untuk mengkapitalisasi perekonomian Cina kemudian membuka kesempatan besar bagi pemuda-pemuda Cina untuk belajar ke luar negeri, hasilnya telah mengubah wajah Cina menjadi raksasa ekonomi di awal abad 21 yang ditakuti oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa. Dengan begitu pentingnya sosok kaum muda, Proklamator Republik Indonesia Soekamo sendiri pemah melontarkan pikirannya tentang optimismenya bersama kaum muda, “berikan kepadaku para kaum muda, maka akan ku ubah bangsa ini menjadi lebih baik” ungkap Soekamo.

Perhatian dan optimisme bangsa bersama kaum muda untuk melakukan sebuah perubahan tentu benar adanya demikian, sebab sosok kaum muda adalah sosok yang memiliki karakter yang unik. Diantara keunikannya itu adalah, bahwa kaum muda memiliki semangat baru dan senantiasa bergejolak, keberanian untuk mengambil resiko besar, serta memiliki pandangan yang jauh menembus masanya. Buktinya, melalui tangan kaum mudalah kemerdekaan Republik ini bisa direbut dari jajahan kolonial.

Maka di tengah krisis kebangsaan yang kita hadapi saat ini, kerinduan tampilnya kepemimpinan kaum muda menjadi harapan banyak kalangan. Apalagi banyak catatan sejarah yang telah menunjukkan keberhasilan kepemimpinan kaum muda tersebut. Saat sekarang saja misalnya, munculnya sosok Mahmoud Ahmadinejad sebagai presiden Iran, Hugo Cavez sebagai presiden Venezuela, Evo Morales sebagai Presiden Bolivia, dan munculnya kandidat Barac Obama dalam pemilihan presiden Amerika Serikat nanti yang merepresentasikan kepemimpinan kaum muda menunjukkan apresiasi publik terhadap mereka. Apalagi ketika para pemimpin tersebut mampu membawa institusi negara atau kekuasan yang dimiliki sebagai sarana mewujudkan kedaulatan bangsa dan kesejahteraan sosial.

Kepercayaan terhadap kepemimpinan kaum muda ini tidak hanya dalam konteks sejarah kita hari ini, bahkan dalam Islam sendiri munculnya Muhammad sebagai rasulullah yang diangkat pada usianya 40 tahun menunjukkan pentingnya kaum muda dalam kepemimpinan umat. Jika kaum muda tidak signifikan dalam kepemimpinan, tentu saja Rasul akan diangkat pada usia-usia 60 atau lebih, namun yang terjadi bukanlah demikian. Jadi dalam konteks ini, kepemimpinan kaum muda amat penting diwujudkan bukan saja sebagai sebuah wacana, melainkan sebagai sebuah praktis gerakan.

Terkait dengan hal ini, kami sebagai bagian dari generasi Muda Indonesia yang merupakan pilar bangsa, dalam kiprahnya sebagai wadah aspirasi perjuangan menghimpun, menggerakkan, serta menggembleng pemuda dan mahasiswa guna meningkatkan peran dan tanggung jawabnya sebagai kader bangsa, berpandangan bahwa sebagai upaya mewujudkan negara sejahtera (walfare state) atau negara yang baldatun tayyibatun warabbun ghafur, kepemimpinan kaum muda merupakan jawaban yang harus didorong mulai saat ini. Konsep, paradigma, strategi, serta karakter kepemimpinan kaum muda harus, menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam melakukan formulasi tersebut.

Disinilah konteks gagasan perkaderan fungsional ini perlu untuk direalisasikan, bukan sebagai kegiatan rutinitas an sich, melainkan yang lahir dari spirit baru perkaderan yang di dalamnya mengusung pembentukan spirit kepemimpinan kaum muda dalam mewujudkan negara sejahtera (Welfare State) dengan mengusung nilai-nilai profetisme yang dicontohkan oleh para manusia agung sebelumnya, yang telah berjasa membangun peradaban manusia.


Sumber: Berbagai sumber