pohonTanggal 5 Juni setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Perhatian khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan lembaga-lembaga internasional lainnya terhadap masalah ini, merupakan kesempatan untuk menarik kepedulian masyarakat dunia terhadap isu lingkungan hidup. Mengingat betapa merusaknya dampak polusi terhadap iklim global, maka slogan utama yang diusung dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun 2008 ini, adalah “Menuju Ekonomi Rendah Karbon”

Slogan ini merupakan peringatan bagi seluruh masyarakat dunia. Sebab meningkatnya volume gas karbon secara masif, khususnya dalam dua dekade terakhir, mengakibatkan terjadinya perubahan iklim global secara drastis. Dampak tragis perubahan itu bisa terlihat dengan munculnya fenomena pemanasan global, hujan yang disertai banjir, angin topan, dan makin panjangnya musim kemarau. Sejumlah bukti membuktikan, warga miskin negara-negara berkembang merupakan korban utama tragedi tersebut. Padahal, pelaku yang menyebabkan terjadinya bencana tersebut adalah mereka yang sebagian besar hidup di negara-negara industri dan Barat.

Umat manusia dalam beberapa abad belakangan berhasil meraih kemajuan yang begitu menakjubkan. Sebuah perubahan revolusioner di bidang ekonomi, ilmu pengetahuan, dan teknologi yang sulit dicari bandingannya di sepanjang sejarah umat manusia. Sebuah perubahan drastis yang membuat manusia mampu merubah kondisi alam dan berhasil mewujudkan kesejahteraan materi yang begitu besar. Namun begitu, perubahan itu juga membawa dampak buruk dan krisis yang makin merajalela.

Selama ini manusia berpikir, kesejahteraan materi mereka bisa diperbaiki dengan mengeksploitasi alam lewat kemajuan teknologi dan industri. Namun perlahan, mereka pun sadar bahwa sumber daya alam juga terbatas dan bisa musnah. Munculnya krisis energi fosil belakangan ini, merupakan dampak dari pemanfaatan secara berlebihan sumber daya alam yang terbatas dan tak bisa diperbarui.

Persoalan lainnya adalah kendati kemajuan sains dan industri modern berupaya untuk mewujudkan lingkungan hidup yang lebih baik. Namun nyatanya, kemajuan itu justru memunculkan beragam polusi, kerusakan lingkungan hidup, dan terganggunya keseimbangan ekosistem alam. Sebelum ini, manusia berpikir bahwa sebagaimana alam bisa memberikan sumber energi, maka alam juga mampu mengurai kembali limbah industri. Namun nyatanya, kemampuan alam begitu terbatas untuk memproses kembali limbah tersebut. Di sisi lain, meski penggunaan racun biologis dan pupuk kimia di bidang pertanian bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil pertanian, namun dengan kian menumpuknya bahan kimia, maka keseimbangan ekosistem pun menjadi terganggu.

Munculnya gejala pemanasan global juga disebabkan oleh pemanfaatan energi fosil dan beragam polusi industri lainnya. Sejatinya, suhu bumi saat ini tengah mengalami peningkatan sebagai efek dari fenomena rumah kaca. Dengan kata lain, seperti halnya suhu panas yang bisa tertahan di rumah kaca, maka suhu panas yang terus menumpuk juga tertahan di bumi, sehingga suhu udara pun makin meningkat. Sejumlah data menujukkan bahwa pemanasan bumi merupakan fenomena di luar prediksi dan telah sampai pada tahap krisis. Sebagai misal, suhu rata-rata belahan bumi utara pada paruh kedua abad ke-20, lebih tinggi dari periode 50-tahunan sebelumnya selama 500 tahun terakhir.

Data tersebut juga menyinggung bahwa faktor utama penyebab peningkatan suhu karena meningkatnya emisi gas rumah kaca yang dihasilkan manusia. Tentu saja proses perubahan itu tidak akan berlangsung perlahan. Sebagai contoh dalam beberapa tahun terakhir, jumlah bencana angin topan, badai tornado, hujan yang disertai banjir besar, di berbagai kawasan dunia makin meningkat tajam. Sementara di kawasan lainnya, masa kekeringan kian panjang, khususnya di kawasan tropis dan sub-tropis.

Perubahan iklim global ini juga bisa memperburuk kondisi masyarakat miskin dunia. Selain itu, dalam situasi semacam ini, upaya untuk mewujudkan pembangunan bekelanjutan niscaya dihadapkan pada masalah yang serius. Sejumlah data menunjukkan, tahun 2020 nanti, kehidupan 75 sampai 250 juta orang di Benua Afrika bakal terancam oleh meningkatnya permukaan air laut, akibat memanasnya suhu bumi. Situasi krisis tersebut bisa makin diperparah dengan bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya permintaan air bersih. Ini berarti, pertanian juga terancam untuk memenuhi kebutuhan pangan yang kian meningkat. Sementara, persentase ladang pertanian tadah hujan di dunia, hingga tahun 2020 bakal menurun hingga 50 persen.

Salah satu dampak lainnya dari pemanasan global adalah mencairnya cadangan es abadi di puncak gunung-gunung besar dunia, seperti di pegunungan Himalaya. Mencairnya cadangan es abadi tersebut bisa berdampak pada meluapnya permukaan sungai-sungai besar di kawasan Asia. Selain itu, dengan terus bertambahnya jumlah penduduk dunia, maka pada tahun 2050 nanti, sekitar satu miliar penduduk benua Asia bakal terancam oleh krisis air mimum.

Tak diragukan lagi, dampak buruk pemanasan global tidak hanya mengancam negara-negara miskin dan sedang berkembang. Tapi juga negara-negara maju. Para analis memperkirakan, perubahan iklim itu juga bakal memperlebar jarak kesenjangan sosial dan ekonomi di tingkat global. Situasi semacam itu niscaya berujung pada kian bertambahnya angka kemiskinan yang juga bisa mengancam keamanan dunia.

Data-data lainnya menunjukkan, AS dengan penduduk 5 persen dari total penduduk dunia, pada tahun 2004 menghasilkan sekitar 5,5 ton gas karbon per orang. Angka tersebut lebih tinggi dibanding negara-negara lainnya seperti kawasan Eropa, Cina dan India. Dengan demikian penyebab utama munculnya pemanasan global merupakan akibat dari ketamakan negara-negara industri, khususnya AS dan keengganan mereka untuk menaati aturan internasional. Terus meningkatnya emisi gas rumah kaca yang dihasilkan negara-negara maju, dan faktor-faktor lainnya merupakan penyebab percepatan memanasnya suhu bumi. Mencairnya cadangan es kutub, meningkatnya permukaan air laut, dan tenggelamnya daratan bumi secara luas, semua itu merupakan petanda hancurnya kehidupan manusia di planet ini.

Sumber: indonesian.irib.ir