beauty-fashion-rock-itManusia adalah mahluk kompleks yang memiliki pelbagai naluri, kecendrungan, dan pemikiran. Salah satu kecendrungan mendasar dalam diri manusia adalah keinginan untuk memperoleh variasi atau keragaman. Menurut para psikolog, kecendrungan semacam itulah yang mendorong manusia untuk selalu mengikuti perkembangan mode atau fashion. Kini, gejala fashionholic atau kecanduan pada mode menjadi kian marak di dunia. Khususnya di kalangan remaja. Mereka selalu berusaha mengikuti perkembangan mode terbaru. Secara umum mode adalah perubahan dalam pakaian, kebiasaan, teladan perilaku, dan cara hidup.

Para sosiolog berkeyakinan bahwa mode merupakan simbol cara hidup, kekayaan, kesejahteraan dan kelas sosial seseorang. Tentu saja pada dasarnya kecendrungan untuk memperoleh variasi merupakan hal yang wajar dan sesuai dengan naluri manusia. Kecendrungan semacam itu bisa mendorong manusia untuk bergerak maju. Karena itu, tidak semua orang menolak mode secara penuh dan menilainya sebagai penyulut penyimpangan perilaku sosial.

Gejala mode atau keinginan untuk selalu tampil variatif dan beda bisa kita temui di pelbagai periode sejarah. Mode pakaian, adat dan tradisi, dan cara hidup masyarakat selalu mengalami perubahan di sepanjang sejarah. Sosiolog AS, Herbert Blumer berpendapat, mode muncul lewat dua tahap. Pertama adalah tahap inovasi. Dalam tahap ini muncul mode-mode baru sesuai dengan perkembangan masyarakat. Tahap kedua adalah tahap pemilihan mode oleh anggota masyarakat, sehingga mode tersebut menjadi berkembang. Terkait soal fase perkembangan suatu mode ini, seorang pakar perempuan asal Iran, Zuhreh Musavi menulis, “Secara umum setiap mode memiliki tiga tahapan. Pertama, menarik perhatian dan mengejutkan. Setelah itu, bisa diterima oleh publik. Dan ketika sudah populer, maka mode tersebut pun akan kehilangan nilainya, dan akan digantikan mode yang baru”.

Para sosiolog dan psikolog memberikan pandangan yang beragam mengenai penyebab kecendrungan masyarakat pada mode dan perubahan cara kehidupannya. Pencurahan naluri memperoleh variasi merupakan salah satu faktor utama yang mendorong seseorang untuk mengikuti mode. Karena manusia selalu berusaha menghindar dari hal-hal yang monoton dan menginginkan perubahan. Keinginan untuk selalu tampil beda yang disertai dengan naluri pamer diri di lingkungan sosial inilah yang menyebabkan munculnya perubahan drastis dalam bentuk pakaian, penampilan, perilaku dan sebagian besar kecendrungan lainnya. Para pakar sosiologi menilai, kecendrungan untuk tampil sama sesuai dengan yang lain namun tetap beda merupakan alasan utama seseorang untuk mengikuti mode. George Simmel, pemikir dan sosiolog asal Jerman menulis, “Mode dan sikap meniru bukan hanya bisa memenuhi keinginan manusia untuk tampil beda tapi juga untuk tampil seperti yang lain.”

Remaja dan ABG (anak baru gedhe) adalah kalangan yang lebih tertarik pada mode sesuai dengan mental mereka di usia tersebut. Pada usia itu, seorang remaja ingin menampilkan identitas baru dan tampil independent. Karena itu, seorang anak muda berusaha mengikuti mode untuk menunjukkan kepribadiaanya yang independent. Abraham Maslow, psikolog AS mengajukan alasan lainnya soal kecendrungan anak muda terhadap mode. Ia menyatakan, “Para remaja sesuai dengan tuntutan usianya menginginkan selalu dihargai dan dihormati. Mereka menggunakan beragam cara untuk mencapai tujuannya itu. Sebagian melalui belajar, sebagian lewat olahraga dan seni, dan sebagian lagi dengan merubah penampilannya sesuai dengan mode”.

Selain itu, perilaku modis di kalangan remaja juga bisa menyebabkan mereka lebih diterima di kalangan pergaulannya. Namun yang perlu diingat juga bahwa mode merupakan alat untuk menarik perhatian lawan jenis di kalangan remaja. Para sosiolog juga menilai bahwa mode merupakan simbol kelas sosial tertentu. Karena itulah kalangan yang lebih mapan berusaha mengikuti mode yang lebih mahal untuk menunjukkan keunggulan tingkat sosialnya.

Kendati kecendrungan untuk selalu tampil beda merupakan hal yang bisa diterima. Namun, sejak hampir satu abad terakhir ini fenomena mode telah berubah dari kewajarannya. Mode telah dijadikan sebagai alat komersial sejumlah negara-negara Barat. Seiring dengan perkembangan perangkat media massa, khususnya televisi, gejala kecanduan pada mode atau fashionholic makin berkembang pesat. Media massa pun akhirnya menjadi alat penting untuk menyebarkan mode gaya Barat. Perkembangan ini menyebabkan mode-mode yang sesuai dengan budaya dan nilai-nilai Barat berkembang luas di kalangan masyarakat Timur yang memiliki budaya tersendiri.

Di sisi lain, para produsen komoditas Barat bekerjasama dengan media massa dunia untuk menjual komoditasnya kepada para konsumen global. Untuk meraup penjualan yang makin besar, mereka pun berusaha menawarkan mode terbaru di pasar dan menarika mode yang lama. Karena itulah media massa berupaya menciptakan keinginan palsu di kalangan publik dan memaksa mereka untuk terus mengikuti perkembangan mode terbaru mulai dari pakaian, peralatan rumah tangga, sampai kebutuhan hidup lainnya.

Terkait hal ini, peran para tokoh tenar Barat memiliki andil yang amat besar dalam menyebarkan mode terbaru. Para seleberitis pemain filem, penyanyi, dan olahragawan merupakan orang-orang yang sengaja dijadikan sebagai bintang oleh media massa. Ketika para bintang tersebut mengenakan mode terbaru, maka masyarakat pun akan menjadi tertarik untuk mengikutinya. Tak seberapa lama kemudian, para remaja pun kemudian membeli dan menirunya secara buta.

Mode bisa kita temui di beragam komoditas, mulai dari pakaian, sepatu, peralatan rumah tangga, mobil, telepon seluler, hingga bahasa pergaulan dan bentuk olahraga tertentu. Ironisnya, lewat propaganda media massa, perkembangan mode Barat di negara-ngeara lain telah menjadi kiblat utama. Mode telah berubah menjadi alat untuk memusnahkan budaya lokal. Mode Barat merupakan bagian dari penjajahan kultural Barat terhadap bangsa-bangsa lainnya.

Mode terbaru seakan sudah identik dengan meniru mode budaya Barat. Hal semacam itu tentu saja berdampak negatif terhadap masyarakat negara-negara berkembang. Pasalnya, mode Barat mengandung kultur barat yang kini cendrung mengarah pada penyimpangan terhadap nilai-nilai moral. Terlebih budaya Barat, memiliki perbedaan mendasar dengan nilai-nilai moral yang dianut oleh masyarakat Timur, khususnya Islam. Sebab, budaya Timur adalah budaya yang menjunjung tinggi spiritualitas dan nilai-nilai moral. Tentu saja remaja yang telah kecanduan oleh mode Barat, ia akan menghadapi krisis identitas pula. Mereka merasa, pakaian dan penampilan yang mereka kenakan bertentangan dengan norma-norma masyarkat, budaya, dan agama yang dianutnya.

Sikap konsumerisme dan terikat dengan perekonomian negara-negara Barat merupakan dampak lain dari fenomena taklid buta terhadap mode Barat. Dalam beberapa tahun terakhir ini, mental hidup sederhana masyarakat Timur telah berubah menjadi sikap hidup mewah dan konsumeris terhadap apapun yang berasal dari Barat. Ketika sebagian besar modal dan sumber daya yang dimiliki oleh negara-negara berkembang hanya dimanfaatkan untuk memenuhi hasrat konsumerismenya, tentu saja mereka tidak akan bisa berkembang menjadi bangsa yang maju. Kendati demikian,bersikap kritis terhadap mode Barat bukan berarti menolak penuh inovasi dan sikap tampil beda. Karena sebagaimana yang ditegaskan oleh ajaran Islam, inovasi, kreatifitas, dan tampil beda merupakan hal yang sangat positif bagi kemajuan masyarakat.

Sumber: indonesian.irib.ir