bosschaObservatorium yang didirikan oleh Karl Albert Rudolph Bosscha di Kawasan Bandung Utara ini termasuk salah satu tempat peneropongan bintang tertua di Indonesia. Obs.Bosscha yang dulunya bernama Bosscha Sterrenwacht udah sangat terkenal, bahkan di dunia Internasional nama Bosscha udah familiar, terutama bagi para astronom2 disana. Bosscha merupakan salah satu aset berharga yang dimiliki oleh Indonesia karena observatorium ini memiliki 5 teleskop yang sangat mendukung pengamatan astronomi yaitu teleskop refraktor ganda Zeiss, teleskop Schmidt Bima Sakti, teleskop refraktor Bamberg, teleskop Cassegrain GOTO, dan teleskop refraktor Unitron.

Tapi biarpun udah sering denger ama yang namanya Bosscha, apa ada di antara kita yang tau gimana keadaannya sekarang??

Kawasan Bandung Utara memang daerah yang bisa bikin makhluk manapun ngerasa adem ayem buat tinggal disana. Udaranya sejuk, pemandangannya bagus pokoknya asik abis lah. Otomatis hal ini membuat bertambahnya pemukiman penduduk dan juga nggak akan disia-siakan sama para pengembang (developer) yang mau nyari keuntungan material semata. Para pengembang itu ingin membangun sebuah daerah wisata terpadu seluas 75 ha yang lahannya masih memasuki radius perimeter 2,5 km dari peneropongan bintang.

Dengan dibangunnya daerah wisata terpadu ini, maka tentu aja bakal mengganggu berbagai aktivitas pengamatan astronomi di Bosscha. Intensitas cahaya yang tinggi bisa mempengaruhi kualitas hasil pengamatan teleskop di Bosscha karena pengamatan astronomi membutuhkan tempat yang gelap. Selain itu juga pasti akan ada pencemaran udara yang bakal menghalangi pengamatan astronomi sehingga jarak yang bisa diamati dengan teleskop yang ada di Bosscha semakin terbatas. Dampak lain yang gak kalah pentingnya yaitu akan menyebabkan rusaknya ekosistem lingkungan hidup yang ada di kawasan Bandung Utara sendiri.

Berbagai upaya untuk menyelamatkan Bosscha tlah dilakukan secara intern oleh pihak observatorium Bosscha dan juga masyarakat yang masih peduli ama nasib Bosscha. Mereka udah menanam pohon di sekeliling observatorium karena pohon bisa mengurangi efek cahaya yang mengganggu penelitian. Mereka juga udah meminta pihak pemerintah untuk mengatasi masalah ini karena Bosscha benar2 merupakan cagar budaya yang bersejarah dan tak ternilai harganya bagi Indonesia.

Walaupun presiden Susilo Bambang Yudhoyono sendiri sudah meminta menristek Dr. Kusmayanto Kadiman untuk melestarikan Bosscha, namun untuk mengatasinya nggak segampang itu mengingat Bosscha sendiri masih belum punya sertifikat tanah. Dan sebaiknya pihak pemerintah tidak tergiur oleh sogokan yang ditawarkan oleh para pengembang karena harga Bosscha tidak dapat dinilai dengan uang. Dengan adanya Bosscha, kita bisa memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia, bahkan dunia karena ada beberapa objek langit tertentu yang hanya bisa diamati dari Bosscha dan tidak bisa dilihat di tempat lain.

Semoga aja Indonesia bisa mempertahankan Bosscha demi masa depan generasi penerus bangsa biar mereka masih bisa menikmati keindahan langit ciptaan Tuhan mereka.

(sumber: mycroft87.blog.friendster.com)