situ-lembang-viewPusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mulai 2009 akan intensif menyelidiki Patahan Lembang. Penyelidikan terutama akan difokuskan pada struktur, sejarah, dan interval gempa di patahan yang diprediksi berpotensi menimbulkan gempa besar ini.

Danny Hilman, peneliti senior dari Puslit Geoteknologi LIPI, di dalam Workshop Geosains untuk wartawan, akhir pekan lalu di Lembang, mengatakan, penelitian ini akan melibatkan tim ahli dari Jepang. Penelitian lewat penggalian parit ini amat penting karena informasi dan riset terkait patahan di kawasan Bandung Utara ini masih sangat minim. Penelitian dipusatkan di wilayah Perumahan Grha Puspa.

Dilihat dari kondisi segmen patahan yang terdiri dari satu segmentasi, berjarak sekitar 20 kilometer, sesar ini berpotensi menimbulkan gempa berkekuatan 6,9 SR. Sesar ini mirip Patahan Singkarak di Sumatera Barat yang menimbulkan gempa besar di Sumatera awal 2007. Memiliki segmen terpisah, tetapi dalam satu garis sejajar. Bila satu segmen bergerak, bisa memicu yang lain dan menimbulkan gempa besar.

”Perdebatan kini tak perlu diarahkan pada pertanyaan aktif tidaknya patahan ini. Yang pasti, menurut saya, ini (Patahan Lembang) aktif karena pernah memiliki catatan pergerakan dalam kurun waktu 10.000 tahun,” ucapnya. Dari data awal, interval gempa di kawasan ini 500 tahun. Yang berbahaya, patahan ini bagian sistem sesar panjang sepanjang 100 km dari Ujung Genteng, Sukabumi–Padalarang.

Menurut dia, getaran Patahan Lembang akan sangat berbahaya bagi penduduk di Bandung. Selain jaraknya dekat, ini disebabkan kondisi struktur tanah aluvial yang membentuk cekungan Bandung. Tanah sisa endapan lumpur di zaman purba ini akan menambah besarnya guncangan. Sejauh ini belum pernah tercatat ada gempa dangkal disebabkan patahan, di kawasan Bandung.

Eko Yulianato, peneliti lainnya dari LIPI, mengungkapkan, penelusuran mengenai Patahan Lembang masih sangat sulit. ”Karakteristik hampir tidak diketahui. Terdiri dari satu segmen atau bagaimana? Jika terjadi gempa slipnya ke arah mana juga belum diketahui,” ujarnya.

Persoalan di patahan ini, kata dia, bisa jadi studi kasus implementasi UU No 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana.

Dalam kesempatan ini, Danny menyebutkan, potensi gempa besar di daerah Simeleu, Sumbar, masih amat besar. ”Energi yang disimpan masih besar meski sudah dilepaskan tiap 200 tahun,” ucapnya. Hal sama dikatakan Deputi Ilmu Kebumian LIPI Heri Harjono.

(Sumber: Situs http://www.cetak.kompas.com)