lubang-lele

Gambar di atas diambil dari situs harian Pikiran Rakyat. Itu realita sekarang. Betapa banyak jalan berlubang yang tergenangi air, apalagi ketika musim hujan seperti sekarang-sekarang.

Untuk kita yang biasa melalui jalur itu, mungkin bersikap biasa-biasa saja. Tapi jika orang yang baru berkunjung, pasti mengomentari atau ngedumel, yah sejenisnya lah.

Masalah jalan yang berlubang ini diperparah dengan kecelakaan yang terjadi saat hujan turun, bahkan ketika banjir pun terjadi. Jalan yang seharusnya rata itu pun, meminta tumbal. Bukan hanya kendaraan yang hancur, nyawa pun bisa melayang.

Ketika beberapa waktu saya menyempatkan berkeliling Kab Bandung, fenomena itu saya saksikan di hadapan saya. Entah siapa yang harus disalahkan; Pemerintah melalui Dinas terkait? Perusahaan yang mengerjakan proyek jalan tersebut? Atau masyarakat yang tidak hati-hati dengan kondisi jalan yang sudah hancur, toh mereka tetap memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi? Silahkan dijawab sendiri.

Seharusnya pemerintah juga dapat segera merespon permasalahan ini. Jenderal Soedirman pernah bilang: “Biarkan Kami para pemimpin yang menderita!!!” Mengapa mereka membiarkan rakyat menderita dengan fasilitas jalan yang amburadul?

Kompensasi kepada pemerintah melalui pembayaran pajak pun sudah dilakukan oleh masyarakat. Sudah sepantasnya, pemerintah, melalui dinas terkait membenahi fasilitasi itu.

Jalan merupakan pintu gerbang untuk penyaluran aset-aset strategis daerah, maka ia harus menjadi prioritas pembangunan fisik – tidak dengan pembangunan gedung perkantoran mewah saja.

Semoga saja hal ini dapat memancing sence of crisis pemerintah daerah atas kondisi masyarakat di lapis bawah.

Jaya Indonesia!!!

Muda-Tangguh-Mandiri