inside-the-colloseumEntitas agama dan negara adalah dua satuan sejarah yang berbeda hakikatnya. Agama adalah kabar gembira dan peringatan (QS. al-Baqarah:119), sedangkan negara adalah kekuatan pemaksa. Agama punya khatib, juru dakwah dan ulama, sedangkan negara punya birokrasi, pengadilan dan tentara. Agama mempengaruhi jalannya sejarah melalui kesadaran bersama, negara mempengaruhi sejarah dengan keputusan, kekuasaan dan perang. Agama adalah kekuatan dari dalam dan negara adalah kekuatan dari luar.

Jika kita telusuri sejarah kelahirannya, agama tidak bisa diatur oleh kekuatan politik, agama tumbuh tidak dengan logika kekuasaan, tapi dengan logika kepercayaan. Daya tarik agama berbeda dengan daya tarik politik, sehingga penindasan terhadap agama justru sering menyuburkan agama itu. Ini misalnya, dapat kita temukan bukti-bukti  dalam sejarah agama itu. Nabi Musa menyebarkan agama di bawah ancaman kekuasaan Fir’aun. Agama Kristen tumbuh subur meskipun ada penindasan Romawi. Islam tersebar di Mekkah, meskipun ditentang oleh elite Quraisy.

Ini merupakan bukti bahwa kekuatan agama mampu memberikan semangat hidup bagi para penganutnya. Mereka rela mengorbankan apa saja demi tegaknya keyakinan mereka. Ingat kisah Bilal dan Salman al-Farisi, keduanya tidak berubah pikiran dari keimanan kepada Allah walaupun penyiksaan telah melewati ambang batas kemanusiaan. Keyakinan mereka begitu tertanam dalam qalbu, sehingga apapun yang terjadi dengan dirinya mereka tidak memperdulikannya. Dengan semangat yang tinggi para pengikutnya itu pula, Islam telah tersebar ke berbagai belahan dunia. Di berbagai tempat Islam telah mempengaruhi kehidupan masyarakat.

Bagaimana hubungan Islam sebagai agama dengan negara Indonesia? Dalam sejarah pembentukan bangsa ini, sebenarnya Islam telah banyak menyumbang. Islam, menurut sejarahwan Kuntowijoyo, telah membentuk civic culture (budaya bernegara), “national” solidarity, ideologi jihad, dan kontrol sosial. Ini dapat dilihat adanya kerajaan Islam, tradisi-tradisi di masyarakat yang dipengaruhi ajaran Islam serta yang terpenting adalah semangat merebut kemerdekaan dari tangan Belanda yang bersumber dari ajaran Islam.

Sumbangan Islam yang besar itu dalam sejarah pembentukan bangsa Indonesia ini, merupakan aset yang tak terkira bagi saat lahirnya bangsa ini. Namun, persoalan hubungan Islam dan Negara tak kunjung usai. Permasalahan ini tetap menjadi polemik bagi berbagai kalangan Islam itu sendiri. Ini terjadi tidak hanya pada saat ini, tapi sejak awal berdirinya republik ini. Polemik hubungan Islam dan negara belum menemukan kesimpulan yang pas yang dapat menjadi kesepakatan bersama. Sebuah dialog yang terbuka antara kalangan Islam yang menghendaki bentuk formal Islam dalam negara dan kalangan Nasionalis Sekuler  yang menghendaki agama (Islam) hanya menjadi urusan privat (tidak masuk formal negara) sangat perlu dilakukan..

Di sinilah sebuah dialog yang terus-menerus harus dilakukan agar tercapai sebuah platform bersama, sehingga energi bangsa dapat diarahkan pada masalah-masalah yang lebih menyentuh pada persoalan kemanusiaan, penegakkan keadilan, dan  kemakmuran. Dalam dialog itu hendaknya dicari suatu titik temu, sehingga   bangsa ini mempunyai konfigurasi yang sesuai tentang hubungan agama dan negara yang tidak saling meniadakan satu sama lainnya. Sebuah harmonisasi yang indah, hangat, dan religius diperlukan di sini. [] (Rudhy S.)