holly quran

Avan-provost

Surat Al Mu’minuun terdiri atas 118 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah. Dinamai Al Mu’minuun, karena permulaan ayat ini manerangkan bagaimana seharusnya sifat-sifat orang mukmin yang menyebabkan keberuntungan mereka di akhirat dan ketenteraman jiwa mereka di dunia. Demikian tingginya sifat-sifat itu, hingga ia telah menjadi akhlak bagi Nabi Muhammad s.a.w.

Pokok-pokok isinya.

1. Keimanan:

Kepastian hari berbangkit dan hal-hal yang terjadi pada hari kiamat; Allah tidak memerlukan anak atau sekutu.

2. Hukum-hukum:

Manusia dibebani sesuai dengan kesanggupannya; rasul-rasul semuanya menyuruh manusia memakan makanan yang halal lagi baik; pokok-pokok agama yang dibawa para nabi adalah sama, hanya syariatnya yang berbeda-beda.

3. Kisah-kisah:

Kisah Nuh a.s.; kisah Hud a.s. kisah Musa a.s. dan Harun a.s.; kisah Isa a.s.

4. Dan lain-lain:

Tujuh perkara yang harus dipenuhi, oleh seorang mukmin yang ingin mendapat keberuntungan hidup di dunia maupun di akhirat; proses kejadian manusia; tanda-tanda orang yang bersegera kepada kebaikan; nikmat Allah yang dianugerahkan kepada manusia wajib disyukuri.

Surat Al Mu’minuun dimulai dengan sifat-sifat yang dipunyai oleh seorang mukmin yang berbahagia hidup di dunia dan di akhirat. Sekalipun Allah tidak membeda-bedakan pemberian rezki di dunia ini kepada manusia apakah ia mukmin atau kafir, tetapi kebahagiaan yang sebenarnya hanya diberikan kepada orang-orang yang mukmin di akhirat kelak.

Kemudian dikemukakan apa yang telah dialami oleh para nabi dan kaum-kaum kepada siapa mereka diutus; orang-orang yang mengikuti nabi selalu mendapat pertolongan dari Allah, sedang orang-orang yang mengingkari nabi dihancurkan dan dimusnahkan Allah agar menjadi i’tibar bagi umat-umat yang datang kemudian. Setelah menggambarkan kedahsyatan hari kiamat, maka surat ini ditutup dengan menggambarkan hasil yang diperoleh oleh orang-orang mukmin dan orang-orang kafir di akhirat nanti.

Surat Al Mu’minuun (QS. 23) ayat 8, artinya:

Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.

Surat al Mu’minuun diawali dengan sifat-sifat yang inheren pada diri seorang mu’min, yakni orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya, orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, orang-orang yang menunaikan zakat, orang-orang yang menjaga kemaluannya, orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.

Beberapa hal tersebut di atas mencerminkan keharusan bagi seseorang yang ingin mendapatkan predikat takwa di sisi Allah SWT. Maka, jika seseorang ingin dikatakan beriman kepada Allah SWT, ia harus melaksanakan keseluruhan perintah itu. Itulah ketetapan yang digariskan oleh Allah SWT dalam membangun keselarasan bagi manusia sebagai ikhtiar membangun peradaban manusia yang manusiawi dalam lingkup ilahiah.

Sifat amanah adalah perilaku yang melekat dengan diri Rasulullah Suci saww, Penghulu Para Nabi dan Auliya’. Beliau saww telah mencontohkan dalam kehidupannya yang mulia, sebagai tuntunan (sunnah) yang harus kita ikuti, sebagai bentuk penghormatan dan cinta kita kepada beliau saww.

Sejarah mencatat, ketika beliau saww mendapatkan perintah dari Allah SWT untuk memulai dakwah (QS. Al Muddatstsir: 1), dengan resiko apapun, beliau saww sampaikan amanat dari Allah SWT. Walaupun kita tahu, hanya sedikit yang mengakui kebenaran yang disampaikan itu.

Menyampaikan kebenaran memang bukan perkara mudah, resiko tertinggi – kematian, bahkan menanti di hadapan kita. Berseteru dengan orang-orang terdekat pun bukan hal yang tidak mungkin. Kenyataannya, memang itulah tugas kita semua, seperti yang selalu dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad saww dalam setiap kisah mulianya.

Sebagai syarat dari kecintaan kita kepada beliau saww, maka adalah sebuah keharusan bagi kita untuk menyampaikan amanat kebenaran dari Sang Maha Benar kepada setiap manusia. Setiap pemimpin harus menyampaikan dan melaksanakan amanat kepemimpinannya, yaitu melaksanakan kehendak rakyat untuk menciptakan kondisi bangsa adil dan makmur yang diridhai Allah SWT.

Sosok pemimpin adalah yang paling bertanggungjawab dalam tugas menyampaikan dan melaksanakan amanat, karena ia memegang beban hidup dari masyarakat yang ia representasikan. Ketika ia tidak amanah, maka pasti terjadi kekacauan dalam ikatan kemasyarakatan yang horizontal dan vertical (chaos sosial), seperti yang terjadi di Thailand sekarang.

Amanah adalah syarat bagi kita untuk memilih pemimpin yang akan menjadi wakil kita dalam sistem demokrasi di Indonesia sekarang. Sistem demokrasi keterwakilan di Indonesia sekarang menuntut kita, rakyat Indonesia, untuk selektif dalam memilih wakil kita di parlemen. Wakil yang kita pilih haruslah meneladani perilaku mulia Rasulullah saww, ia tidak korup, mau mendengarkan, aspiratif, melawan setiap kedzaliman yang menindas rakyat, dan mau memperjuangkan setiap kehendak rakyat. Panglima Besar Jenderal Soedirman pernah berkata: “Biarlah kami, para pemimpin, yang menderita, selama rakyat hidup makmur.” Karena memang seperti itu keharusan seorang pemimpin.

Pada hari ini, di Indonesia, pemimpin yang amanah pasti adalah pemimpin yang tidak memiliki beban sejarah kelam masa lalu Indonesia yang kejam dan menindas. Ia adalah generasi baru Indonesia yang lahir dengan semangat zaman yang baru, yang juga paham akan dinamika sejarah Indonesia, figur yang tidak terlibat dalam penindasan rezim dahulu tapi merasakan efek panjang rezim otoritarian. Sosok yang menjadikan rakyat sebagai penunjuk jalannya, ia adalah orang, yang bersama-sama dengan rakyat, berjuang dalam koridor kebenaran. Maka pemimpin yang amanah adalah bagian dari generasi baru Indonesia yang akan memperbaharui kondisi Indonesia menuju visi bangsa, yakni melindungi segenap tumpah darah Indonesia, mencerdaskan kehidupan bangsa, mensejahterakan rakyat, dan ikut andil dalam usaha ketertiban dunia.

Kriteria tersebut hanya akan ada pada sosok generasi muda Indonesia, generasi muda yang mampu menjadi figur amanah bagi masyarakat. Ia adalah representasi orang-orang tertindas, wakil kaum proletar, pemimpin para mustadh’afin. Rasulullah Suci saww pernah berkata: “Jika engkau ingin mencariku, carilah di tempat orang-orang tertindas.” Mengapa demikian? Karena beliau saww lahir dari orang-orang yang tertindas, besar dan belajar bersama orang-orang tertindas, lahir untuk berjuang demi orang-orang tertindas, bahkan wafatnya pun bersama orang yang tertindas. Hanya orang-orang tertindas yang mengetahui keinginan orang-orang yang tertindas. Ya, orang tertindas yang sanggup berjuang, pasti adalah anak-anak muda Indonesia.

Pilih Partai Golkar, nomor 23,

Partai yang amanah